Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berhasil bangkit dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 melampaui perkiraan pasar.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026), rupiah terapresiasi 0,50% ke posisi Rp17.925/US$. Mata uang Garuda pun berhasil kembali bergerak di bawah level psikologis Rp18.000/US$.
Rupiah menguat sekitar 90 poin dibandingkan posisi penutupan Selasa (4/8/2026) di Rp18.015/US$. Penguatan hari ini sekaligus membalikkan pelemahan 0,19% pada perdagangan sebelumnya.
Sejak pembukaan perdagangan, rupiah telah bergerak di zona hijau dengan penguatan 0,32% ke posisi Rp17.957/US$. Penguatan rupiah semakin besar setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Rupiah sempat terapresiasi 0,61% ke level Rp17.905/US$, sebelum memangkas sebagian penguatannya menjelang penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 99,846.
Penguatan rupiah terjadi setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 berada di atas perkiraan pasar.
BPS mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026. Meski melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal sebelumnya, realisasi tersebut lebih tinggi daripada perkiraan ekonom.
Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga dan institusi sebelumnya memperkirakan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,12% secara tahunan.
"Pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku Rp6.552,1 triliun dan atas dasar harga konstan Rp3.576,2 triliun, sehingga pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 dibandingkan triwulan II-2025 atau yoy tumbuh 5,29%," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam rilis BPS, Rabu (5/8/2026).
Pertumbuhan tersebut menunjukkan ekonomi domestik masih bertahan di tengah tekanan global akibat perang antara AS dan Israel dengan Iran. Konflik tersebut sempat mendorong lonjakan harga minyak dan mengganggu rantai pasok dunia setelah aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terhambat.
Dari dalam negeri, aktivitas ekonomi mendapat dukungan dari pencairan gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri. Peningkatan investasi, penjualan ritel, serta penjualan kendaraan bermotor juga turut menopang pertumbuhan.
Realisasi pertumbuhan yang melampaui konsensus memberikan sentimen positif terhadap aset keuangan domestik. Pada saat yang sama, pelemahan tipis indeks dolar AS turut memberikan ruang bagi rupiah untuk bertahan di zona hijau hingga penutupan perdagangan.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

14 hours ago
2

















































