Salma Laiqa, CNBC Indonesia
05 August 2026 15:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah raksasa teknologi dunia diperkirakan akan melantai di bursa dalam beberapa waktu ke depan. Meski valuasinya mencapai triliunan dolar Amerika Serikat (AS) dan menarik perhatian investor, sejarah menunjukkan saham perusahaan yang baru IPO belum tentu mampu memberikan keuntungan jangka panjang.
Debut SpaceX di pasar saham pada Juni 2026 berhasil menghimpun dana sebesar US$86 miliar atau sekitar Rp 1.548 triliun (US$1= Rp 18.000) dan mengerek valuasi produsen roket tersebut menjadi lebih dari US$2 triliun (Rp 36.000 triliun).
Namun, kapitalisasi pasarnya telah menyusut ratusan miliar dolar bahkan sebelum perusahaan melaporkan kinerja keuangan yang melampaui ekspektasi pada 4 Agustus 2026.
Pencatatan saham SpaceX hanyalah pembuka.
Sejumlah perusahaan lain juga berpotensi listing di bursa tahun ini dengan valuasi fantastis, termasuk OpenAI dan Anthropic, dua perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI), Stripe, perusahaan pemrosesan pembayaran, serta Databricks, perusahaan perangkat lunak data.
Besarnya valuasi perusahaan-perusahaan tersebut telah menarik perhatian pusat industri keuangan Amerika Serikat, Wall Street. Apakah saham-saham tersebut benar-benar akan menghasilkan keuntungan bagi investor masih menjadi tanda tanya.
Tak sulit memahami mengapa penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) begitu menggoda investor.
Membeli saham perusahaan yang baru melantai di bursa kerap terasa seperti masuk sebelum nilainya melesat, dengan peluang meraih keuntungan besar.
Rata-rata kenaikan harga saham pada hari pertama IPO di Amerika Serikat (%) Foto: Economist
Bonnie Brown, terapis pijat internal Google yang bergabung pada 1999, menerima opsi saham yang pada akhirnya menjadikannya seorang multimiliuner.
Sementara itu, David Choe, seniman yang disewa untuk melukis mural di kantor Facebook di Palo Alto pada 2005, menerima saham sebagai pembayaran atas jasanya. Nilai saham tersebut kemudian diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS.
Saat sebuah perusahaan melantai di bursa, sebagian besar keuntungan biasanya sudah lebih dulu diraup.
Pendiri perusahaan, karyawan, dan perusahaan venture capital umumnya telah memegang saham perusahaan tersebut selama bertahun-tahun. Usia median perusahaan yang baru melantai di bursa di Amerika Serikat kini mencapai sekitar 12 tahun, naik dari sekitar delapan tahun pada 1980-an.
Saat IPO berlangsung, investor institusi seperti dana pensiun biasanya menjadi pihak pertama yang mendapat kesempatan membeli saham pada harga penawaran. Investor ritel baru masuk belakangan dan sering kali harus membayar lebih mahal untuk kesempatan tersebut.
Rekam jejak historis juga kurang menggembirakan. Saham perusahaan yang baru tercatat di bursa memang kerap melonjak pada hari pertama perdagangan.
Pada 2025, rata-rata kenaikan harga saham di hari pertama mencapai sekitar 30%.
Setelah itu, euforianya cenderung mereda.
Data yang dihimpun Jay Ritter, profesor dari University of Florida, menunjukkan bahwa perusahaan yang melantai di bursa sepanjang 1980 hingga 2024 mencatat kinerja sekitar 21 poin persentase lebih rendah dibandingkan pasar secara keseluruhan dalam tiga tahun pertama setelah IPO, atau setara sekitar 5,5 poin persentase per tahun.
Imbal hasil saham perusahaan yang melantai di bursa AS setelah IPO, 2010–2025 (%) Foto: Economist
Rata-rata tersebut menutupi variasi yang sangat besar. The Economist menganalisis imbal hasil saham dalam satu, tiga, dan lima tahun dari lebih dari 3.500 perusahaan di Amerika Serikat yang melantai di bursa sepanjang 2010 hingga 2025. Hasilnya sangat beragam.
Sejumlah kecil perusahaan mampu mengungguli pasar hingga ratusan poin persentase, sementara banyak lainnya tertinggal dengan selisih yang sama besarnya. Membeli saham perusahaan yang baru melantai di bursa pun tak ubahnya seperti membeli tiket lotre.
Meski demikian, gelombang mega-IPO yang akan datang mungkin mencatat kinerja lebih baik dibandingkan perusahaan yang umumnya baru melantai di bursa.
Data Jay Ritter menunjukkan bahwa perusahaan teknologi yang melantai di bursa sepanjang 1980 hingga 2024 mencatat kinerja 5,1 poin persentase di bawah pasar dalam tiga tahun pertama setelah IPO. Namun, perusahaan dengan penjualan tahunan sedikitnya US$100 juta justru mengungguli pasar sebesar 13,7 poin persentase. Antusiasme pasar terhadap mega-IPO tersebut mungkin tidak sepenuhnya keliru.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(Salma Laiqa)

14 hours ago
2

















































