Tak Ikut Perang Trump-Iran, Petani di Negara Tetangga RI Kena Getahnya

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kenaikan harga bahan bakar akibat konflik geopolitik global mulai menghantam sektor pertanian di Thailand. Para petani di negara tersebut kini menghadapi kelangkaan solar serta lonjakan biaya produksi, meski negaranya tidak terlibat langsung dalam perang.

Di wilayah Ayutthaya, Thailand tengah, seorang petani bernama Thanadet Traiyot harus mengantre berjam-jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) demi mendapatkan solar untuk mengoperasikan pompa air di sawahnya. Namun, upayanya kerap berujung sia-sia.

Ia mengaku sudah lima hari tidak berhasil mengisi kembali stok bahan bakarnya ke tingkat normal setelah SPBU kehabisan pasokan saat dirinya berada di antrean.

"Ini sangat memengaruhi kami sebagai petani karena kami bergantung pada bahan bakar untuk operasi kami. Kami membutuhkan bahan bakar untuk merawat tanaman dan memompa air untuk memelihara tanaman padi," ujar Thanadet, seperti dikutip Guardian, Sabtu (28/3/2026).

Krisis energi ini menjadi pukulan berat bagi sektor pertanian dan perikanan Thailand, yang merupakan salah satu eksportir utama beras, gula, dan produk perikanan dunia.

Para petani kesulitan menjalankan mesin pertanian, termasuk saat panen, sementara banyak nelayan menghentikan aktivitas melaut. Kelompok nelayan bahkan memperingatkan industri bernilai miliaran dolar tersebut bisa terhenti total dalam hitungan hari tanpa bantuan pemerintah.

Pairote Rodpai, petani yang mengelola lahan seluas 11,2 hektare, mengaku khawatir dengan kenaikan harga bahan bakar ke depan.

"Dalam satu bulan ke depan, seberapa tinggi harganya akan naik? Saat panen nanti, kebutuhan bahan bakar akan jauh lebih besar," ujarnya.

Pamannya, Theerasin Thanachawaroj, menyebut kondisi ini sebagai yang terburuk sepanjang tiga generasi keluarganya bertani.

Selain energi, ancaman lain datang dari sektor pupuk yang juga sangat bergantung pada impor, terutama dari kawasan Teluk Persia. Konflik yang berkepanjangan berpotensi memperparah harga dan ketersediaan pupuk.

Harga Melonjak, Pasokan Seret

Tak hanya kelangkaan, harga solar juga melonjak tajam sejak pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Per Kamis, harga solar di Thailand mencapai 38,94 baht per liter atau sekitar Rp17.500, naik dari sebelumnya 29,94 baht per liter atau sekitar Rp13.500.

Lonjakan ini terjadi setelah pemerintah mengakhiri subsidi energi. Meski pemerintah mengklaim memiliki cadangan energi untuk 100 hari, di lapangan antrean panjang dan tanda "habis stok" mulai marak di berbagai SPBU.

Dampaknya meluas ke berbagai sektor. Layanan taksi di bandara utama Bangkok dikurangi, kapal wisata berhenti beroperasi, bahkan sejumlah kuil dilaporkan menunda proses kremasi akibat keterbatasan bahan bakar.

Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara mulai mengambil langkah penghematan energi. Filipina menerapkan sistem kerja empat hari bagi sebagian pegawai negeri, sementara Laos mendorong penggunaan sepeda dan transportasi umum.

Di Thailand, pemerintah menyiapkan langkah bantuan bagi petani, termasuk pembelian beras di atas harga pasar dan subsidi pupuk.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |