Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan bom bunuh diri mengguncang ibu kota Pakistan, Islamabad, saat ribuan warga tengah menunaikan salat Jumat (6/2/2026), menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 169 lainnya dalam serangan paling mematikan di kota itu sejak pengeboman Hotel Marriott pada 2008.
Menurut pejabat kota, serangan terjadi di Masjid Syiah Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra, yang terletak di kawasan Tarlai di pinggiran Islamabad. Jumlah korban tewas diperkirakan masih akan bertambah seiring banyaknya korban luka yang berada dalam kondisi kritis.
Seorang sumber keamanan mengatakan kepada AFP bahwa pelaku bom bunuh diri sempat dicegat di pintu masuk masjid sebelum akhirnya meledakkan diri. "Penyerang dihentikan di gerbang dan meledakkan dirinya sendiri," ujar sumber tersebut dengan syarat anonim.
Kelompok Negara Islam (Islamic State/IS) mengeklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Berdasarkan pemantauan SITE Intelligence Group, yang mengawasi komunikasi kelompok jihadis, IS menyatakan bahwa salah satu militannya menargetkan jemaah dengan rompi berisi bahan peledak dan "menyebabkan banyak kematian dan luka-luka".
Sejumlah saksi mata menggambarkan suasana mencekam di dalam masjid. Muhammad Kazim, 52 tahun, mengatakan ledakan yang terjadi sangat dahsyat. "Ledakannya sangat kuat," katanya kepada AFP.
Ia menjelaskan bahwa saat itu jemaah baru memasuki gerakan pertama dalam salat. "Saat rukuk pertama dalam Namaz, kami mendengar suara tembakan. Dan ketika kami masih dalam posisi rukuk, tiba-tiba terjadi ledakan," ujarnya.
Saksi lainnya, Imran Mahmood, mengungkapkan bahwa sempat terjadi baku tembak antara pelaku, kemungkinan seorang kaki tangan, dan relawan keamanan masjid. "Pelaku bom bunuh diri mencoba maju, tetapi salah satu relawan kami yang kemudian terluka menembaknya dari belakang dan mengenai pahanya," kata Mahmood, yang berusia sekitar 50-an. "Setelah itu dia meledakkan bahan peledaknya," tambahnya.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan pelaku dan pihak yang berada di balik serangan tersebut akan diburu. Ia berjanji bahwa mereka akan diadili. Serangan ini tercatat sebagai yang paling mematikan di Islamabad sejak September 2008, ketika sebuah truk bermuatan bom meledak di Hotel Marriott dan menewaskan 60 orang.
Di rumah sakit, suasana duka dan kepanikan terlihat jelas. Di Pakistan Institute of Medical Sciences (PIMS), korban, termasuk anak-anak, dibawa dengan tandu atau dipapah oleh keluarga dan petugas. Banyak korban tiba dengan pakaian berlumuran darah, bahkan ada yang diangkut menggunakan bagasi mobil.
Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar mengecam keras serangan tersebut. Ia menyebutnya sebagai "kejahatan keji terhadap kemanusiaan dan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinsip Islam". "Pakistan berdiri bersatu melawan terorisme dalam segala bentuknya," katanya dalam unggahan di platform X.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mengutuk serangan itu. Melalui juru bicaranya, ia menyatakan bahwa "serangan terhadap warga sipil dan tempat ibadah tidak dapat diterima".
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ancaman keamanan di Pakistan. Aparat keamanan negara itu tengah menghadapi gelombang pemberontakan di provinsi-provinsi selatan dan utara yang berbatasan dengan Afghanistan.
Adapun Pakistan merupakan negara mayoritas Sunni, namun sekitar 10% hingga 15% penduduknya beraliran Syiah, yang selama bertahun-tahun kerap menjadi target kekerasan kelompok ekstremis.
Pemerintah Pakistan menuding kelompok separatis bersenjata di Balochistan serta Taliban Pakistan dan kelompok militan lainnya di Khyber Pakhtunkhwa memanfaatkan wilayah Afghanistan sebagai tempat berlindung untuk melancarkan serangan. Tuduhan tersebut telah berulang kali dibantah oleh pemerintah Taliban di Afghanistan.
Hubungan kedua negara pun memburuk, dengan bentrokan rutin terjadi di sepanjang perbatasan. Serangan besar terakhir di Islamabad terjadi pada November lalu, ketika bom bunuh diri di luar sebuah pengadilan menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya, menjadi serangan pertama di ibu kota setelah hampir tiga tahun relatif tenang.
Sementara itu, di Balochistan, serangkaian serangan yang diklaim oleh kelompok separatis pekan lalu menewaskan 36 warga sipil dan 22 personel keamanan. Pemerintah merespons dengan operasi balasan besar-besaran, yang menurut otoritas setempat menewaskan hampir 200 militan.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
5

















































