Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyatakan negaranya harus bersiap menghadapi skenario terburuk. Hal itu disampaikannya menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan pengurangan signifikan latihan militer gabungan Seoul-Washington.
"Menjaga perdamaian adalah hal yang paling penting bagi Korea Selatan, tetapi kita juga perlu bersiap menghadapi skenario terburuk," kata Lee pada Selasa (18/8/2026), seperti dikutip dari pernyataan resmi pemerintah Korea Selatan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump memerintahkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth untuk "mengurangi secara signifikan" latihan gabungan dengan Korea Selatan. Trump menilai latihan tersebut dapat mengirimkan "sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan" kepada Korea Utara.
Trump juga menyinggung hubungannya yang disebutnya "sangat baik" dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Dalam unggahan di Truth Social, ia menggambarkan Pyongyang sebagai pihak yang "tidak mengancam dan penuh rasa hormat".
Lee menegaskan latihan tahunan Ulchi Freedom Shield bersifat defensif dan tidak ditujukan untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Latihan yang dimulai Senin tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 27 Agustus dengan melibatkan sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan.
Pyongyang selama ini mengecam latihan tersebut dan menilainya sebagai gladi resik untuk invasi. Kementerian Luar Negeri Korea Utara bahkan menyebut latihan itu sebagai persiapan menghadapi "konfrontasi militer berskala besar" dan menilai klaim AS serta Korea Selatan bahwa latihan tersebut bersifat defensif sebagai kedok untuk perang agresif.
Di sisi lain, Trump sebelumnya menuding Seoul tidak cukup membantu AS dalam konflik dengan Iran.
"Kami menempatkan 39.000 tentara di sana untuk melindungi kalian dari Kim Jong Un, tetangga sebelah kalian, namun kalian tidak mau membantu kami," ujarnya. Saat ini sekitar 28.500 personel militer AS ditempatkan di Korea Selatan.
Menurut Victor Cha, ketua program studi Korea di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Trump kemungkinan memanfaatkan latihan militer tersebut untuk menarik perhatian Kim Jong Un dan membuka peluang pertemuan baru.
"Hal ini bukanlah sesuatu yang tidak lazim. Kita pernah melihat presiden menggunakan latihan militer sebagai sarana di masa lalu," kata Cha, seraya mengingatkan bahwa Trump pernah menangguhkan latihan gabungan pada 2018 saat Washington dan Pyongyang bernegosiasi.
Cha menilai waktu latihan juga menjadi instrumen politik bagi Trump untuk menyampaikan pesan sekaligus mengalihkan perhatian dari isu Iran.
"Trump sudah lelah dengan isu Iran... jadi dia beralih ke hal lain," katanya.
(tfa/tps)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
3

















































