Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah proyek penelitian multinasional selama lima tahun menemukan bahwa mikroplastik di dalam tanah dapat bertindak seperti "kuda Troya" yang membawa berbagai polutan, pestisida, bakteri, hingga materi genetik ke lingkungan pertanian.
Melansir The Guardian, Sabtu (19/9/2026) penelitian yang didanai Uni Eropa tersebut sejauh ini telah menghasilkan 22 studi yang telah melalui proses tinjauan sejawat. Para peneliti menemukan keberadaan mikroplastik di seluruh 227 lahan pertanian yang diuji di 11 negara Eropa.
Temuan tersebut dinilai menjadi perhatian global karena tanah yang sehat memiliki peran penting dalam menopang kehidupan dan produksi pangan di Bumi.
Dalam sejumlah kasus, tingkat kontaminasi mikroplastik mencerminkan praktik pertanian yang diterapkan saat ini maupun penggunaan lahan pada masa lalu. Kondisi itu menunjukkan bahwa pencemaran plastik dapat bertahan di dalam tanah selama bertahun-tahun.
Penelitian juga mengungkap bahwa mikroplastik dapat berinteraksi dengan berbagai tekanan lain yang dihadapi sektor pertanian, termasuk pestisida dan obat-obatan hewan.
Salah satu studi yang dilakukan di Swiss menemukan bahwa lahan pertanian dengan konsentrasi partikel hasil keausan ban paling tinggi juga menunjukkan kadar bahan kimia beracun dan logam lainnya yang lebih tinggi.
Mikroplastik Jadi Habitat Mikroba
Para peneliti menemukan bahwa mikroplastik dapat menjadi tempat terbentuknya habitat baru bagi mikroorganisme pada permukaannya. Lingkungan tersebut dikenal sebagai plastisphere.
Plastisphere menjadi ruang terjadinya interaksi antara plastik, mikroba, dan bahan kimia yang berasal dari aktivitas pertanian.
Dalam penelitian tersebut, peningkatan gen yang berkaitan dengan resistensi terhadap antibiotik ditemukan di dalam plastisphere dibandingkan kelompok kontrol. Keberadaan pestisida tampaknya turut memperkuat efek tersebut.
Edoardo Puglisi, mitra proyek sekaligus profesor mikrobiologi di Catholic University of the Sacred Heart di Piacenza, Italia, menjelaskan bahwa ukuran mikroplastik turut menentukan kemampuannya membawa kontaminan.
Menurutnya, semakin kecil ukuran partikel mikroplastik, semakin besar kecenderungannya menyerap polutan, mikroorganisme, serta DNA.
Kondisi tersebut, kata Puglisi, menciptakan apa yang disebut sebagai efek "kuda Troya" yang berpotensi meningkatkan penyebaran patogen dan gen yang menyebabkan resistensi terhadap antibiotik.
Salah satu penelitian dalam proyek tersebut juga menemukan bahwa mekanisme "kuda Troya" dapat memengaruhi cacing tanah dan organisme lain di dalam tanah dengan mengganggu proses penting, termasuk siklus hara.
Cacing tanah sendiri memiliki peran penting dalam membentuk komposisi mikrobioma tanah sekaligus menjaga fungsi ekologis tanah.
Mengganggu Pertumbuhan Tanaman
Proyek Minagris yang didanai Uni Eropa dan bekerja sama dengan Countryside and Community Research Institute di University of Gloucestershire juga menemukan adanya pengaruh mikroplastik terhadap pertumbuhan serta fungsi tanaman.
Salah satu penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi mikroplastik, semakin besar penurunan luas daun, kandungan klorofil, efisiensi fotosintesis, dan biomassa tanaman selada.
Dampaknya menjadi semakin jelas ketika tanaman juga menghadapi kondisi kekeringan. Dalam situasi tersebut, kinerja tanaman tercatat lebih buruk dibandingkan ketika tanaman hanya mengalami salah satu tekanan secara terpisah.
Temuan ini menunjukkan bahwa berbagai polutan dan tekanan lingkungan tidak selalu bekerja secara sendiri-sendiri. Ketika hadir secara bersamaan, interaksi di antara faktor-faktor tersebut dapat menghasilkan dampak yang berbeda.
Para peneliti menilai pendekatan penilaian lingkungan yang hanya melihat polutan secara terpisah perlu dipertimbangkan kembali. Pencemaran plastik, menurut mereka, perlu dilihat sebagai bagian dari persoalan yang lebih luas terkait degradasi dan pencemaran tanah.
Plastik Biodegradable Tak Otomatis Lebih Aman
Upaya mengurangi pencemaran plastik telah mendorong peningkatan penggunaan plastik yang dapat terurai secara hayati atau biodegradable.
Namun, penelitian dalam proyek tersebut menunjukkan bahwa label biodegradable tidak otomatis berarti material tersebut lebih aman bagi lingkungan. Plastik jenis ini tetap dapat terurai menjadi mikroplastik dan berpotensi menimbulkan dampak ekologis.
"Begitu plastik-plastik ini terpecah-pecah di dalam tanah, hampir mustahil untuk menyingkirkannya; plastik ini bertindak sebagai pembawa bahan kimia pertanian dan mengubah ekosistem tanah yang vital," ujar Dr. Esperanza Huerta Lwanga, peneliti bidang fisika tanah di Universitas Wageningen, Belanda.
Ia menekankan perlunya perubahan kebijakan untuk menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan produksi pangan dalam jangka panjang.
"Demi menjaga kesehatan tanah dan produksi pangan jangka panjang, kebijakan harus segera menyesuaikan diri. Kita sangat membutuhkan standardisasi pemantauan plastik, transparansi penuh dari pihak produsen, serta penilaian risiko yang mengevaluasi interaksi mikroplastik dengan polutan lain pada berbagai spesies," katanya.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
3

















































