Won Tumbang ke Level Terlemah 17 Tahun, Ada Aoa dengan Korea?

8 hours ago 8

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

25 March 2026 19:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar won Korea Selatan sempat menyentuh level terlemahnya dalam 17 tahun terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, won Korea Selatan ditutup melemah 1,38% ke posisi KRW 1.517,3/US$ pada perdagangan Rabu (18/3/2026). Level tersebut menjadi yang terlemah sejak Maret 2009, atau terburuk dalam 17 tahun terakhir.

Tekanan terhadap won muncul di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong pelaku pasar global keluar dari aset berisiko dan beralih ke dolar AS sebagai aset aman.

Meski demikian, pada penutupan perdagangan terakhirnya Selasa (24/3/2026), won Korea masih berada di zona merah dengan ditutup terdepresiasi 0,63% ke level KRW 1.496,03/US$. Dalam jangka yang lebih panjang, jika dilihat dalam 12 bulan terakhir, won juga tercatat telah melemah 1,98% terhadap dolar AS.

Alasan Melemahnya Won

Salah satu penyebab utama melemahnya won Korea Selatan adalah meningkatnya sentimen risk off di pasar global. Ketika ketegangan geopolitik memanas, investor cenderung menghindari aset berisiko dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS. Kondisi ini membuat permintaan terhadap dolar meningkat, sementara mata uang Asia, termasuk won, ikut tertekan.

Selain faktor safe haven, won juga tertekan oleh derasnya arus modal asing keluar dari pasar saham Korea Selatan.

Sepanjang Maret ini, investor asing tercatat melakukan jual bersih pada pasar saham Korea Selatan sekitar US$13,5 miliar atau setara dengan Rp152,01 triliun (asumsi kurs Rp11,26/US$). Aksi jual ini ikut memberi tekanan tambahan pada won, karena dana hasil pelepasan saham umumnya dikonversi ke dolar AS sebelum keluar dari pasar domestik.

Foreign FlowsFoto: Reuters
Foreign Flows

Arus keluar dana asing tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dampak perang di Timur Tengah terhadap pasokan energi global.

Aksi jual asing banyak terkonsentrasi pada saham-saham teknologi yang sebelumnya sudah mencatat kenaikan besar berkat booming kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ketika saham-saham unggulan korea dilepas investor asing, tekanan tidak hanya terasa di pasar modal, tetapi juga merembet ke nilai tukar won.

Selain itu, gangguan pasokan energi membuat harga minyak melonjak tajam dan memicu kekhawatiran akan terjadinya oil shock serta risiko stagflasi, yakni kondisi ketika inflasi tetap tinggi di tengah perlambatan ekonomi.

Sentimen ini menjadi kabar buruk bagi Korea Selatan, yang merupakan negara net importir energi. Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar beban impor, mendorong inflasi, dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi. Artinya, pelemahan won tidak hanya dipicu oleh penguatan dolar AS, tetapi juga oleh kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akan membebani ekonomi domestik Korea Selatan.

Dengan demikian, pelemahan won Korea Selatan terjadi akibat kombinasi beberapa faktor sekaligus, mulai dari meningkatnya permintaan dolar AS sebagai aset aman, keluarnya dana asing dari pasar saham, lonjakan harga minyak akibat konflik Timur Tengah, hingga kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Korea Selatan sebagai negara pengimpor energi.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |