Beda Perlakuan Xi Jinping Saat Jamu Trump dan Putin, Lebih Sayang Siapa?

6 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping menunjukkan perlakuan berbeda saat menerima Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing.

Meski keduanya sama-sama mendapat sambutan kenegaraan mewah, isi pembicaraan hingga hasil pertemuan memperlihatkan perbedaan besar dalam hubungan China dengan Washington dan Moskow.

Trump dan Putin sama-sama disambut di Lapangan Tiananmen dengan pengawal kehormatan, band militer, hingga anak-anak yang melambaikan bunga dan bendera China. Keduanya juga bertemu Xi di Balai Agung Rakyat.

Namun, pendekatan Xi terhadap masing-masing pemimpin berbeda.

Saat menerima Trump, Xi lebih menonjolkan simbol penghormatan dan keramahan diplomatik. Presiden AS itu bahkan diajak berkeliling Zhongnanhai, kompleks elite kepemimpinan China yang jarang dibuka untuk tamu asing.

George Chen, mitra praktik Greater China di The Asia Group, mengatakan Xi memahami bahwa Trump sangat menghargai penghormatan simbolik.

"Xi tahu inilah yang dihargai Trump: diperlakukan seperti VIP, dihormati di depan kamera," ujar Chen, seperti dikutip The Associated Press, Jumat (22/5/2026).

Selain itu, fokus utama pertemuan Xi dan Trump adalah menjaga stabilitas hubungan kedua negara setelah memanas akibat perang dagang dan rivalitas ekonomi.

Xi mendorong agar AS melihat China sebagai mitra, bukan lawan. Kedua pemimpin juga sepakat membangun hubungan China-AS yang "konstruktif dan stabil secara strategis."

Berbeda dengan Trump, Xi memperlakukan Putin dengan pendekatan yang lebih substantif dan strategis. Putin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Xi di dalam Balai Agung Rakyat. Kedua pemimpin meninjau pameran hubungan China-Rusia, minum teh bersama, hingga membahas kerja sama jangka panjang.

"Menegaskan kembali perjanjian persahabatan, menandatangani kesepakatan energi baru, dan menekankan kembali kemitraan 'tanpa batas' mereka," kata Chen.

Hasilnya pun jauh lebih konkret. China dan Rusia menandatangani lebih dari 40 perjanjian kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, energi, dan media.

Kedua negara juga merilis deklarasi bersama yang menyebut China dan Rusia sebagai "pusat kekuatan penting di dunia multipolar."

Sementara itu, Trump dan Xi tidak menandatangani deklarasi bersama maupun mengumumkan kesepakatan besar secara terbuka selama kunjungan berlangsung.

Setelah Trump meninggalkan Beijing, AS baru mengungkap China setuju membeli produk pertanian AS senilai US$17 miliar ( Rp297 triliun) per tahun, serta membeli 200 pesawat Boeing.

Analis Mercator Institute for China Studies di Berlin, Claus Soong, menilai hasil kunjungan Trump terlihat kurang jelas dibanding Putin. "China dan Rusia mencapai lebih banyak kesepakatan, dan dengan China dan AS, apa saja kesepakatannya? Bahkan itu pun tidak begitu jelas," ujarnya.

Perbedaan sikap juga terlihat dalam isu Taiwan. Xi menegaskan kepada Trump bahwa Taiwan merupakan isu paling sensitif dalam hubungan AS-China dan memperingatkan bahwa kesalahan penanganan dapat memicu konflik.

Trump sendiri tidak banyak membahas Taiwan saat berada di Beijing. Namun dalam perjalanan pulang ke AS, ia menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai "alat tawar-menawar yang sangat baik" terhadap China.

Sebaliknya, Rusia secara terbuka mendukung posisi China terkait Taiwan. Dalam deklarasi bersama Xi dan Putin, Moskow kembali menegaskan penolakannya terhadap kemerdekaan Taiwan "dalam bentuk apa pun" serta mendukung upaya China mencapai "penyatuan nasional."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |