Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang pria berusia 22 tahun bernama Melane Lam menjadi otak pencurian kripto berupa Bitcoin senilai US$240 juta atau setara dengan Rp 4,2 triliun. Aksi pencurian yang menargetkan seorang warga Washington DC ini tercatat sebagai kasus pencurian kripto terbesar dalam sejarah Amerika Serikat (AS).
Lam melakukan aksi kejahatan ini bersama beberapa rekannya. Ia merupakan salah satu dari 18 terdakwa dalam kasus tersebut dan menjadi terdakwa ke-11 yang mengaku bersalah di pengadilan.
Pencurian ini dijalankan menggunakan teknik rekayasa sosial (social engineering). Dua orang kaki tangan Lam menyamar sebagai perwakilan dari Google dan bursa kripto Gemini.
Mereka meminta korban untuk memberikan akses ke Google Drive serta kode keamanan, sehingga komplotan tersebut berhasil mengambil alih lebih dari 4.100 Bitcoin, dikutip dari CNN International, Rabu (16/9/2026).
Sementara itu, Lam bertugas membantu mencuci uang dan mengubah kripto hasil curian menjadi uang tunai. Hasil kejahatan tersebut digunakannya untuk hidup berfoya-foya.
Kabarnya, ia membeli sekitar 30 mobil sport mewah seperti Porsche, Lamborghini, dan Ferrari. Lam juga menyewa rumah mewah di Miami serta membeli jam tangan senilai US$2 juta (Rp35,4 miliar).
Selain itu, ia dikabarkan menghabiskan US$569 ribu (Rp10 miliar) hanya dalam satu malam di sebuah klub malam di Los Angeles.
Lam akhirnya ditangkap oleh agen FBI di Miami, sebulan setelah ia menghambur-hamburkan uang hasil pencurian tersebut.
Di persidangan, ia mengakui bahwa dirinya membeli sebagian besar mobil-mobil mewah itu. Namun, ia mengaku tidak ingat jenis kendaraan apa saja yang telah dibelinya dari uang hasil curian tersebut.
"Saya butuh waktu," ujar Lam saat ditanya oleh hakim apakah ia mengingat kendaraan-kendaraan yang dibelinya sendiri.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
4

















































