Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan kesepakatan sementara dengan gencatan senjata untuk mengakhiri perang dengan Iran telah berakhir setelah Teheran melancarkan serangan baru terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Pernyataan itu semakin memperburuk prospek perdamaian di Timur Tengah dan memicu lonjakan harga minyak ke level tertinggi dalam dua pekan.
Iran mengumumkan telah menyerang sejumlah fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan militer AS terhadap target-target Iran.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan hebat di beberapa lokasi strategis, termasuk di Bandar Mahshahr yang menewaskan seorang anggota Garda Revolusi, serta kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr.
Kontak senjata ini pecah bertepatan dengan hari-hari terakhir prosesi pemakaman Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei yang tewas di awal perang pada 28 Februari lalu. Situasi yang semula diharapkan menjadi periode penurunan ketegangan justru berbalik menjadi konfrontasi terbuka setelah kapal tanker pengangkut gas alam cair milik Qatar dihantam rudal di dekat pantai Oman karena melanggar rute navigasi sepihak Teheran.
Pihak Iran sendiri bersikap menantang dan menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun sanksi ekonomi yang kembali ditekankan oleh Washington. Rencana perundingan akhir untuk membahas pembukaan total Selat Hormuz serta pembatasan program nuklir kini berada di ambang kehancuran total.
"Era intimidasi dan pemerasan telah berakhir," kecam Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf melalui akun resminya di media sosial X. "Hal itu tidak akan membawa hasil apa pun. Kami tidak akan menyerah."
Sebelumnya, Washington menyatakan melancarkan serangan tersebut sebagai respons atas aksi Iran yang menyerang kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.
Rangkaian aksi saling balas serangan itu makin melemahkan upaya mengubah kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai bulan lalu menjadi perjanjian damai permanen guna mengakhiri perang yang pecah sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran.
Sebelum menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Turki, Trump ditanya oleh wartawan mengenai status nota kesepahaman (MoU) yang disepakati bulan lalu.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Trump secara tegas menyatakan dirinya menganggap kesepakatan itu sudah tidak berlaku lagi.
"Pertanyaan yang sangat menarik. Menurut saya, kesepakatan itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan lagi dengan mereka," kata Trump kepada wartawan di Ankara, sebagaimana dilansir Reuters.
Trump kemudian melontarkan pernyataan yang lebih keras terhadap pemerintah Iran.
"Mereka adalah sampah. Mereka adalah orang-orang yang sakit. Mereka dipimpin oleh orang-orang yang sakit," ujarnya.
"Sejauh menyangkut saya, berurusan dengan mereka hanyalah membuang-buang waktu," tambah Trump.
Trump sebelumnya memperingatkan bahwa perang akan memicu "bencana ekonomi" apabila konflik terus berlanjut. Namun kini ia menghadapi tekanan politik yang sama besarnya untuk mengakhiri konflik tersebut.
Israel Curi Kesempatan
Dilansir CNN International, pernyataan Trump juga diperkirakan akan mendapat perhatian khusus dari Israel. Pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selama ini dikenal sangat skeptis terhadap pendekatan diplomatik Amerika Serikat dalam menangani Iran.
Karena itu, Netanyahu berpotensi menafsirkan pernyataan Trump sebagai peluang untuk melanjutkan operasi militernya, baik terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon maupun terhadap target-target di wilayah Iran.
Hingga saat ini belum ada kejelasan apakah pernyataan Trump bahwa kesepakatan gencatan senjata telah "berakhir" akan diikuti langkah militer baru dari Washington atau hanya menjadi sinyal politik untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































