China Pasang Internet 100 Mbps di Bulan, Begini Caranya

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - China berhasil membangun koneksi komunikasi laser dua arah antara Bumi dan Bulan dengan jarak lebih dari 400.000 kilometer. Teknologi ini memungkinkan pengiriman data berkecepatan tinggi di ruang cislunar atau wilayah antara Bumi dan Bulan.

Menurut laporan Science and Technology Daily, pencapaian tersebut menjadi komunikasi laser berkecepatan tinggi dua arah pertama China di wilayah cislunar. Teknologi ini diproyeksikan mendukung misi pendaratan manusia di Bulan, pembangunan stasiun riset Bulan, hingga eksplorasi luar angkasa.

Misi ini dipimpin oleh Technology and Engineering Center for Space Utilization di bawah Chinese Academy of Sciences. Tim peneliti menggunakan sebuah satelit yang beroperasi dalam orbit retrograde jauh untuk melakukan pengujian komunikasi laser tersebut.

Teknologi komunikasi laser mengirimkan informasi menggunakan berkas laser. Teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan, seperti bandwidth besar, kecepatan tinggi, arah transmisi yang sangat presisi, serta tingkat keamanan yang kuat.

Namun, tantangan teknis meningkat seiring bertambahnya jarak. Komunikasi antara Bumi dan Bulan, misalnya, membutuhkan laser untuk diarahkan secara sangat presisi dari jarak sekitar 400.000 kilometer.

Laporan tersebut menggambarkan prosesnya seperti mengarahkan berkas cahaya yang sangat tipis melalui sebuah lubang jarum" yang bergerak cepat dari jarak 400.000 kilometer. Sedikit saja terjadi penyimpangan sudut pada sisi pemancar, posisi berkas laser dapat meleset hingga beberapa kilometer ketika mencapai target.

Tim peneliti kemudian memperhitungkan berbagai faktor, mulai dari orbit satelit, kesalahan pemasangan teleskop, pembiasan atmosfer, hingga waktu tempuh laser.

Dengan memperhitungkan faktor-faktor tersebut, tim berhasil menjaga satelit di orbit dan teleskop yang berada di Bumi tetap sejajar secara terus-menerus meskipun keduanya bergerak. Hal ini memastikan berkas laser dapat mencapai target secara akurat.

Tantangan berikutnya muncul ketika sinyal laser menempuh perjalanan lebih dari 400.000 kilometer. Saat mencapai Bumi, sinyal tersebut menjadi sangat lemah hingga hanya menyisakan beberapa foton.

Teleskop di Bumi harus menangkap sinyal yang sangat redup di tengah gangguan cahaya Bulan, cahaya bintang, serta lampu perkotaan. Untuk mengatasinya, tim menggunakan detektor foton tunggal dengan sensitivitas sangat tinggi dan mengembangkan algoritma pengenalan sinyal.

Teknologi tersebut memungkinkan peneliti memisahkan sinyal yang valid dari sejumlah besar gangguan atau noise, demikian dilansir dari Global Times, Kamis (3/9/2026).

Dari sisi kecepatan, tim juga melakukan terobosan dalam pemrosesan data. Eksperimen tersebut menghasilkan kecepatan 1,25 Mbps untuk jalur uplink dan mencapai 100 Mbps untuk jalur downlink.

Peneliti dari pusat tersebut, Yang Lei, memberikan gambaran mengenai peningkatan kecepatan ini. Ia mencontohkan proses mengunduh gambar permukaan Bulan beresolusi tinggi 8K.

Dengan koneksi microwave tradisional berkecepatan 5 Mbps, proses mengunduh gambar tersebut membutuhkan waktu sekitar 4-5 menit. Sementara dengan komunikasi laser berkecepatan 100 Mbps, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 12 detik.

"Jalan raya informasi antara Bumi dan Bulan kini telah dibuka. Di masa depan, kita akan dapat memperoleh lebih banyak data ilmiah yang memiliki nilai orisinal," kata Yang, seperti dikutip dalam laporan tersebut.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |