Dunia Mencekam Jelang Musim Dingin: Asia Borong LNG, Eropa Panik

3 hours ago 4

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

09 July 2026 16:25

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) global memasuki periode yang rawan. Pasokan masih terbatas, permintaan di Asia melonjak, sementara Eropa belum sempat mengisi kembali cadangan gasnya menjelang musim dingin.

Situasi tersebut membuat harga gas tetap tinggi meski harga minyak dunia sudah turun dari puncaknya saat konflik di Timur Tengah memanas.

Melansir dari The Economist, pada 28 Juni lalu, kapal pengangkut LNG supertanker Hlaitan berangkat dari Freeport, Texas menuju Prancis. Di tengah perjalanan, kapal itu berbalik arah ke Asia setelah penyewanya, TotalEnergies, mendapatkan penawaran yang lebih menarik dari pembeli di kawasan tersebut.

Kisah seperti ini semakin sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Pembeli di Asia agresif memburu LNG dari Amerika Serikat karena cuaca yang sangat panas mendongkrak penggunaan listrik untuk pendingin ruangan.

Akibatnya, banyak kargo LNG yang semula dialokasikan untuk Eropa dialihkan ke Asia.

Asia Sedot Kargo LNG dari EropaAsia Sedot Kargo LNG dari Eropa Foto: The Economist

Pada saat yang sama, posisi Eropa cukup rapuh.

Cadangan gas di fasilitas penyimpanan baru terisi sekitar 47% pada musim panas tahun ini. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam 15 tahun terakhir untuk periode yang sama.

Pangkal persoalannya ada di Qatar. Negara Teluk tersebut merupakan salah satu pemasok LNG terbesar di dunia dan selama ini menjadi andalan negara-negara Asia.

Konflik di sekitar Selat Hormuz membuat arus pengiriman LNG dari Qatar belum kembali normal.

Sejak Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz pada pertengahan Juni, hanya 11 kapal LNG yang melintasi jalur tersebut. Angka itu jauh di bawah lalu lintas normal.

Gangguan tersebut membuat pasar kehilangan sekitar seperlima aliran LNG global. Selain itu, sekitar 17% kapasitas ekspor LNG Qatar mengalami kerusakan dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan.

Meski pasokan tambahan mulai berdatangan dari Afrika dan Australia, dunia masih diperkirakan mengalami kekurangan kumulatif sekitar 40 juta ton LNG Qatar hingga akhir 2026. Jumlah itu setara hampir 10% dari total pasokan LNG global tahun lalu.

Di tengah kondisi tersebut, importir di Asia dan Eropa belum terburu-buru membeli LNG untuk kebutuhan musim dingin.

Harga saat ini masih tinggi, sedangkan harga pengiriman untuk musim dingin tidak menawarkan premi yang besar.

Bila pasokan Qatar kembali normal pada September, tekanan pasar diperkirakan mereda.

Harga spot dapat turun dan Eropa punya waktu untuk mengisi kembali penyimpanannya hingga sekitar tiga perempat kapasitas pada November.

Namun ruang aman pasar LNG saat ini sangat tipis. The Economist menilai ada tiga risiko yang dapat memicu lonjakan harga baru.

Risiko pertama berasal dari Timur Tengah. Beberapa kapal LNG masih menunggu di dekat Ras Laffan, pusat ekspor LNG Qatar. Setiap eskalasi baru di kawasan tersebut dapat mendorong negara-negara Asia membayar lebih mahal demi mengamankan pasokan dari Amerika Serikat.

Risiko kedua adalah cuaca ekstrem. Gelombang panas memecahkan rekor di Eropa sepanjang Juni dan mengerek kebutuhan listrik. Di Asia, fenomena El Niño ikut mendorong suhu lebih tinggi dari normal. Bangladesh dan Pakistan bahkan kembali masuk ke pasar spot untuk mencari tambahan LNG.

China menambah lapisan ketidakpastian. Negara itu merupakan importir LNG terbesar di dunia. Ketika kebutuhan dalam negeri turun, China menjual kembali sebagian LNG yang dimilikinya ke pasar internasional.

Ketika gelombang panas datang, pembelian langsung melonjak. Perubahan arah permintaan dari China dapat mengubah keseimbangan pasar hanya dalam waktu singkat.

Risiko ketiga berasal dari infrastruktur energi. Kekeringan mengurangi produksi listrik tenaga air. Suhu sungai yang terlalu hangat dapat membatasi operasi pembangkit nuklir karena reaktor memerlukan air dingin untuk pendinginan. Terminal LNG juga berpotensi mengalami gangguan teknis atau pemogokan pekerja.

Pasar pernah mengalami situasi serupa. Pada 2022, kebakaran di fasilitas LNG Freeport di Amerika Serikat memangkas sekitar 4% pasokan LNG global. Setahun kemudian, aksi mogok di Australia mengganggu operasional fasilitas LNG selama beberapa pekan.

Bagi Eropa, skenario terburuk mungkin tidak sampai memicu krisis energi seperti pada 2022. Namun tagihan pemanas berpotensi kembali melonjak. Bagi negara-negara Asia Selatan, harga LNG yang mahal berisiko memaksa pengurangan konsumsi energi.

Musim dingin masih beberapa bulan lagi. Namun pasar LNG dunia sudah bergerak seperti sedang menghadapi puncak permintaan.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |