Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak malu-malu pagi ini, Selasa (10/2/2026). Indeks dibuka nyaris tidak bergerak.
Pada pembukaan perdagangan IHSG koreksi 4,75 poin atau -0,06% ke level 8.027,12. Sebanyak 248 saham naik, 197 turun, dan 513 tidak bergerak.
Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 748 miliar, melibatkan 1,06 miliar saham dalam 94.210 kali transaksi. Kapitalisasi pasar parkir di level Rp 14.547 triliun.
Adapun pelaku pasar hari ini akan mencermati sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Mulai dari kelanjutan perkembangan MSCI terhadap pasar saham dalam negeri hingga kebijakan bank sentral secara global.
Isu yang paling menyita perhatian pelaku pasar modal saat ini adalah peringatan keras dari MSCI terkait posisi Indonesia. Indonesia terancam turun kelas dari kategori Emerging Markets dan turun kasta ke Frontier Markets jika standar pasar dinilai tidak lagi memenuhi kriteria global.
Risiko downgrade ini menjadi alarm bahaya, mengingat status Emerging Market adalah kunci masuknya foreign flow dalam jumlah triliunan Rupiah ke pasar saham tanah air, terutama kebutuhan Indonesia yang masih sangat bergantung terhadap aliran dana pasif dari index global seperti MSCI.
Merespons ancaman tersebut, pemerintah mengambil langkah tegas dengan melakukan perombakan besar-besaran pada jajaran regulator. Perubahan struktur terjadi mulai dari Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga jajaran direksi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Langkah ini diambil untuk memastikan adanya penyegaran visi dan eksekusi kebijakan yang lebih agresif dan dinamis demi mempertahankan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.
Sebagai tindak lanjut, regulator langsung melakukan eksekusi secara signifikan dengan menerbitkan aturan baru yang lebih ketat.
Salah satu kebijakan strategis yang diberlakukan adalah kenaikan free float menjadi 15%, naik dua kali lipat dari aturan sebelumnya yang hanya 7,5%. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan likuiditas pasar secara riil agar sesuai dengan standar tinggi yang ditetapkan MSCI.
Tak hanya soal likuiditas, transparansi pasar juga dibuka lebar-lebar. Regulator kini mewajibkan pembukaan data kepemilikan saham hingga porsi 1%, jauh lebih transparan dibandingkan aturan lama yang hanya mewajibkan pelaporan untuk kepemilikan 5% ke atas.
Tindakan ini membawa misi ganda yaitu memenuhi standar transparansi global sekaligus melindungi investor ritel dari praktik manipulasi pasar atau "saham gorengan" yang kerap bersembunyi di balik kepemilikan semu.
Arah kebijakan bank sentral global maupun domestik mulai memasuki fase pelonggaran. Setelah mempertahankan tren suku bunga tinggi sepanjang tahun 2024 untuk memerangi inflasi di AS, Bank Indonesia (BI) dan The Federal Reserve (The Fed) kini kompak memangkas suku bunga acuan mereka di tahun 2026 mendatang.
Data pasar per Januari 2026 mencatat Fed Funds Rate telah turun ke level 3,75%, sementara BI Rate menyesuaikan diri untuk tetap di level 4,75% akibat pelemahan Rupiah yang terjadi di pasar valas.
Selisih suku bunga yang terjaga sebesar 1,00% atau 100 basis poin ini dinilai masih cukup menarik dan kompetitif untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing, sekaligus memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah.
Lebih dari itu, penurunan suku bunga acuan ini diharapkan dapat segera tertransmisikan ke perbankan, sehingga menurunkan biaya dana (cost of fund) bagi dunia usaha.
Biaya pinjaman yang lebih murah diharapkan dapat mengakselerasi ekspansi bisnis dan penyaluran kredit, yang pada akhirnya akan memacu pertumbuhan sektor riil secara lebih cepat pada tahun ini guna percepatan mesin ekonomi ke pertumbuhan PDB 8%.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
2

















































