Jakarta, CNBC Indonesia - Pengerahan besar-besaran kekuatan militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir dinilai membuka peluang bagi operasi militer berkelanjutan terhadap Iran jika Presiden Donald Trump akhirnya memberikan perintah.
Kehadiran kapal perang, kapal induk, jet tempur siluman hingga pesawat pengisian bahan bakar di udara memperlihatkan kesiapan tempur yang tidak biasa. Trump yang tahun lalu memerintahkan serangan terhadap Iran, berulang kali mengancam Teheran dengan aksi militer lanjutan apabila perundingan yang tengah berlangsung gagal menghasilkan pengganti kesepakatan nuklir yang ia batalkan pada 2018, saat masa jabatan pertamanya.
Besarnya konsentrasi kekuatan tempur AS di kawasan itu dinilai dapat menciptakan dinamika tersendiri.
Susan Ziadeh, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies, mengatakan bahwa keberadaan "begitu banyak daya tembak di kawasan itu menciptakan momentumnya sendiri".
"Terkadang momentum itu agak sulit untuk begitu saja direm dan mengatakan, sudah, kita tidak akan melakukan apapun," ujarnya, dilansir AFP, Kamis (19/2/2026).
Armada Perang Raksasa
Menurut seorang pejabat AS, saat ini Washington menempatkan 13 kapal perang di Timur Tengah. Armada tersebut terdiri atas satu kapal induk, USS Abraham Lincoln, sembilan kapal perusak, serta tiga kapal tempur pesisir. Tambahan kapal juga dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju kawasan.
Selain itu, USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di dunia, kini berada di Samudra Atlantik dalam perjalanan dari Karibia menuju Timur Tengah setelah diperintahkan Trump awal bulan ini. Kapal induk tersebut dikawal oleh tiga kapal perusak.
Keberadaan dua kapal induk AS secara bersamaan di Timur Tengah tergolong jarang terjadi. Kapal-kapal raksasa ini membawa puluhan pesawat tempur dan diawaki ribuan personel angkatan laut.
Terakhir kali Amerika Serikat menempatkan dua kapal induk di kawasan itu adalah pada Juni tahun lalu, ketika Washington menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran dalam rangkaian kampanye serangan 12 hari Israel terhadap Iran.
Jet Tempur dan Pesawat Pengisi Bahan Bakar
Selain armada laut, Amerika Serikat juga mengirimkan sejumlah besar pesawat militer ke Timur Tengah. Informasi ini terungkap dari akun intelijen sumber terbuka di platform X dan situs pelacakan penerbangan Flightradar24.
Pesawat-pesawat tersebut meliputi jet tempur siluman F-22 Raptor, pesawat tempur F-15 dan F-16, serta pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 yang dibutuhkan untuk menopang operasi jarak jauh jet tempur.
Pada Rabu, data Flightradar24 menunjukkan sejumlah KC-135 terbang di dekat atau di wilayah Timur Tengah. Selain itu, pesawat peringatan dini dan pengendali udara E3 Sentry serta pesawat kargo militer juga terpantau beroperasi di kawasan tersebut.
Kombinasi kapal induk, kapal perusak, jet tempur, dan pesawat pendukung menciptakan kesiapan operasional yang memungkinkan Amerika Serikat melancarkan serangan intensif dalam waktu relatif cepat.
Protes, Ancaman, dan Jalur Diplomasi
Trump memerintahkan USS Abraham Lincoln menuju Timur Tengah ketika Iran melakukan penindakan keras terhadap gelombang protes. Demonstrasi yang awalnya dipicu keluhan ekonomi itu berkembang menjadi gerakan besar menentang Republik Islam.
Kepemimpinan ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979 merespons aksi tersebut dengan kekuatan mematikan dan tetap mempertahankan kekuasaan. Banyak penentang sistem di Iran memandang intervensi eksternal sebagai kemungkinan pendorong perubahan.
Trump sebelumnya berulang kali memperingatkan Iran bahwa jika pemerintahnya membunuh para demonstran, Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer. Ia juga mendorong warga Iran untuk mengambil alih institusi negara, dengan mengatakan "bantuan sedang dalam perjalanan".
Namun, bulan lalu Trump menahan diri untuk tidak memerintahkan serangan, dengan alasan Teheran telah menghentikan lebih dari 800 eksekusi di bawah tekanan Washington. Meski demikian, ia kembali memperbarui ancaman terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir.
Upaya diplomasi tetap berlangsung. Pejabat Amerika Serikat dan Iran menggelar pertemuan di Jenewa pada Selasa guna mencegah intervensi militer AS. Setelah pertemuan tersebut, Iran menyatakan kedua pihak telah menyepakati "prinsip-prinsip panduan" untuk sebuah kesepakatan.
Namun Gedung Putih menyampaikan bahwa jarak posisi kedua negara masih lebar. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pada Rabu bahwa meski "ada sedikit kemajuan yang dicapai," tetapi kedua pihak masih "sangat berjauhan dalam beberapa isu".
Leavitt juga mengatakan kepada wartawan bahwa ada "ada banyak alasan dan argumen yang bisa diajukan untuk melakukan serangan terhadap Iran," dan "Iran akan sangat bijak jika membuat kesepakatan".
Dengan kekuatan militer yang terus bertambah di kawasan dan diplomasi yang masih rapuh, situasi di Timur Tengah kini berada di persimpangan antara jalur perundingan dan potensi eskalasi militer terbuka.
(luc/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































