Pejabat Rusia Buka Suara AS Serang Iran, Sebut Trump Munafik

9 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan global mencapai titik didih baru setelah Rusia melontarkan kritik pedas terhadap Amerika Serikat (AS). Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menuding Washington telah menggunakan diplomasi nuklir hanya sebagai kedok untuk meluncurkan operasi militer terhadap Teheran.

Medvedev, yang merupakan sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, menyebut bahwa serangan udara yang dilakukan AS bersama Israel pada Sabtu (28/2/2026) menunjukkan "wajah asli" Gedung Putih. Menurutnya, AS tidak pernah memiliki niat tulus untuk mencapai kesepakatan damai dalam perundingan nuklir yang selama ini berlangsung.

"Sang pembawa damai sekali lagi menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya," tulis Medvedev melalui saluran Telegram resminya.

"Semua negosiasi dengan Iran hanyalah operasi penyamaran. Tidak ada yang meragukan itu. Tidak ada yang benar-benar ingin menyepakati apa pun."

Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melancarkan serangan militer ini dipandang sebagai puncak dari kebijakan "tekanan maksimum" yang kembali ia gaungkan sejak menjabat di periode kedua.

Trump menilai bahwa diplomasi yang dilakukan pemerintahan sebelumnya terlalu lunak dan justru memberi waktu bagi Iran untuk memperkuat proksinya di kawasan Timur Tengah serta mempercepat pengayaan uranium di fasilitas bawah tanah mereka.

Gedung Putih menegaskan bahwa operasi ini merupakan langkah preventif untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menghentikan ancaman terhadap jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz.

"Waktu untuk berdebat sudah habis. Iran telah mengabaikan setiap kesempatan untuk perdamaian, dan hari ini kita mengirimkan pesan yang jelas: Amerika tidak akan membiarkan rezim yang mengancam dunia dengan teror untuk memiliki senjata paling mematikan di bumi," tutur Trump

Hanya berselang beberapa jam setelah Teheran digempur, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung meluncurkan serangan balasan besar-besaran yang menargetkan aset-aset AS dan sekutunya di seluruh Timur Tengah. Di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, ledakan keras dilaporkan terdengar di pinggiran ibu kota, memicu otoritas setempat untuk segera menutup sebagian ruang udara sebagai langkah pencegahan darurat.

Situasi serupa terjadi di Manama, Bahrain, di mana pangkalan Armada Kelima AS menjadi target utama rudal-rudal Iran. Sirene bahaya udara terus meraung di seluruh penjuru kota, memaksa warga untuk tetap berada di ruang bawah tanah sementara sistem pertahanan udara bekerja keras menghalau serangan yang datang bertubi-tubi.

Sementara itu, Pemerintah Kuwait mengonfirmasi telah mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka setelah mendeteksi sejumlah proyektil yang mengarah ke wilayah kedaulatan mereka. Saat ini, ruang udara Kuwait telah dinyatakan tertutup sepenuhnya untuk seluruh penerbangan sipil guna menghindari risiko kecelakaan di tengah baku tembak rudal.

Di Qatar, Pangkalan Udara Al-Udeid yang menampung ribuan personel militer AS juga dilaporkan masuk dalam jangkauan serangan. Sistem pertahanan Patriot milik Qatar disebut berhasil mencegat setidaknya satu rudal yang mengarah ke wilayah Doha, namun ketegangan di area tersebut tetap tinggi.

Terakhir, eskalasi ini meluas hingga ke Irak, di mana sejumlah fasilitas yang menampung pasukan koalisi juga menjadi sasaran tembak.

(tps/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |