PM Israel Ini Mengundurkan Diri Usai Terserang Stroke Parah dan Koma

4 hours ago 1
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia — Isu sakit parah Perdana Menteri Israel yang menimpa Benjamin Netanyahu beberapa hari terakhir sebenarnya bukan hal baru. Nama Ariel Sharon menjadi contoh paling jelas. Sosok militer yang naik ke puncak kekuasaan di tengah konflik berdarah ini harus mengakhiri masa jabatannya karena penyakit saat masih menjabat.

Pada 2005, Sharon terserang stroke serius yang memaksanya meninggalkan jabatan sebagai Perdana Menteri Israel dan fokus pada perawatan intensif. Kondisinya memburuk hingga koma berkepanjangan. Dalam laporan The Independent, selama bertahun-tahun, Sharon hanya terbaring di rumah sakit dengan alat medis penunjang, makan dan minum melalui selang, serta matanya terus terbuka.

Meski secara medis dia dinyatakan hidup, respons terhadap lingkungan sangat minim. Pada titik inilah, dunia menyaksikan bagaimana seorang pemimpin yang dulu kuat di medan perang harus menghabiskan sisa hidupnya dalam ketidakberdayaan.

Hingga akhirnya, pada 11 Januari 2014, Ariel Sharon meninggal dunia di usia 85 tahun.

Sebelum penyakit mengakhiri kariernya, Sharon adalah sosok militer yang tangguh dan kontroversial hingga disebut penjagal warga Palestina. Dalam buku Warrior: The Autobiography of Ariel Sharon (2001), disebutkan sejak remaja dia sudah aktif dalam gerakan Zionisme dan mengangkat senjata dalam konflik dengan rakyat Palestina. Keberanian dan kerasnya membuat David Ben-Gurion percaya menempatkannya sebagai komandan militer di usia muda.

Karier militernya bersinar sejak Perang Arab-Israel 1948. Kala itu dia berperan penting mempertahankan Yerusalem dan menahan serangan musuh. Kesuksesan itu berlanjut di berbagai konflik besar, termasuk Krisis Suez 1956, Perang Enam Hari 1967, dan Perang Yom Kippur 1973.

Namun, nama Sharon juga identik dengan kontroversi. Mengutip Al Jazeera, operasi-operasi yang dia pimpin menimbulkan banyak korban sipil. Yang paling terkenal terjadi dalam Pembantaian Qibya 1953 dan Pembantaian Sabra dan Shatila 1982. Di peristiwa terakhir yang terakhir disebut, tercatat 20 ribu warga sipil tewas di tangan Sharo. Dunia internasional pun menjulukinya sebagai "tukang jagal".

Setelah pensiun dari militer, Sharon beralih ke politik. Pada 2001, dia terpilih sebagai Perdana Menteri Israel ke-11. Selama masa kepemimpinannya, dia tetap mengambil kebijakan keras, termasuk operasi militer di wilayah Palestina dan pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat.

Sharon juga tercatat sebagai salah satu perdana menteri terkaya Israel dengan kekayaan yang bersumber dari pertanian, peternakan, dan properti. Namun, semua itu harus terhenti akibat stroke yang mengakhiri karier politiknya dan mengantarnya ke koma panjang. Setelahnya, posisi Perdana Menteri digantikan oleh Ehud Olmert.

(mfa/mfa)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |