Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai pengembangan 'harta karun super langka' atau Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan regulasi. Setidaknya pemerintah juga perlu menyiapkan tata kelola, teknologi, investasi, hingga akses pasar.
Menurut Bambang, logam tanah jarang merupakan komoditas yang sangat diminati di pasar global. Namun, rantai pasok dan tata kelola perdagangan internasionalnya masih didominasi oleh sejumlah negara besar.
"Yang kita perlukan nanti bagaimana tata kelolanya, kemudian bagaimana teknologinya, kemudian siapa yang berinvestasi, kemudian bagaimana pasar. Karena ingat, logam tanah jarang ini barang yang seksi," ujar Bambang kepada CNBC Indonesia dalam Economic Update, dikutip Rabu (24/6/2026).
Ia lantas menjelaskan bahwa saat ini penguasaan teknologi dan pasar logam tanah jarang masih berada di tangan negara-negara seperti China, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis. Bahkan, Jepang yang dikenal sebagai negara maju dalam sektor manufaktur disebut belum sepenuhnya menguasai teknologi tersebut.
"Nah ingat, bahkan Jepang pun belum menguasai pengelolaan teknologi untuk logam tanah jarang," katanya.
Oleh sebab itu, menurutnya langkah pemerintah dalam menyiapkan pengelolaan industri logam tanah jarang sudah berada di jalur yang tepat, dimulai dari pembentukan kelembagaan yang akan menjadi fondasi pengembangan sektor tersebut.
"Sudah dibentuk Badan Industri Mineral (BIM), yang nanti akan menjadi think tank dan pelaksana itu. Lalu kemudian ada operatornya, Perminas, perusahaannya. Lalu kemudian kita punya sumber bahan bakunya. Nah yang akan kita eksekusi nanti, kita mau pakai teknologi apa. Kita pakai teknologi apa, yang berinvestasi sudah pasti nanti kalau tidak ada investasi dari luar, pasti nanti dari Danantara," ujarnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































