Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) diperkirakan bakal menarik investasi yang cukup besar. Setidaknya investasi yang didatangkan mencapai US$2,1 miliar atau sekitar Rp35,2 triliun.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan total investasi yang digelontorkan tersebut bakal memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Dan juga dari sisi potensi investasi, ini akan ada investasi sekitar US$ 2,1 miliar. Ini merupakan kontribusi kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," kata dia dalam acara Launching Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026, di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Selain menarik investasi asing, proyek ini juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri nasional, khususnya industri barang modal yang selama ini masih bergantung pada impor.
"Jadi dengan kita kembangkan industri barang modal khususnya dalam rangka ekosistem industri kita di dalam negeri ini cukup banyak yang bisa kita kembangkan berbagai industri, termasuk industri turunan dari barang modal itu sendiri," katanya.
Menurut dia, salah satu proyek strategis yang tengah dikembangkan saat ini berada di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, dan telah memasuki tahap groundbreaking.
"Untuk batu bara yang akan diolah sekitar 6 juta ton batu bara per tahun" kata Yuliot.
Ia pun memerinci dari proses tersebut, proyek ini ditargetkan menghasilkan sekitar 1,4 juta ton DME per tahun. Adapun, proyek ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG sekaligus meningkatkan nilai tambah dari batu bara.
"Dengan potensi tersebut akan berpotensi mengurangi impor LPG sekitar 1 juta ton per tahun Yang berarti kita akan bisa menghemat devisa negara sekitar Rp 9,7 triliun per tahun," ujarnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































