Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan psikologis akibat perang yang berkepanjangan mulai terlihat nyata di kalangan mahasiswa Israel. Sebuah studi akademik terbaru yang melibatkan lebih dari 700 mahasiswa universitas menemukan lebih dari sepertiga responden mengalami pikiran untuk bunuh diri, sementara hampir 40% menunjukkan gejala depresi berat sejak konflik pecah pada Oktober 2023.
Laporan itu menjadi gambaran terbaru mengenai dampak sosial dan mental perang di Israel, terutama karena sebagian besar mahasiswa yang disurvei memiliki hubungan langsung dengan konflik melalui tugas militer cadangan di angkatan bersenjata Israel.
Surat kabar Israel Hayom, sebagaimana dikutip Middle East Monitor, melaporkan bahwa masa panjang penugasan sebagai tentara cadangan telah "mengguncang" kehidupan para mahasiswa. Mereka harus berpisah dari rumah dan teman-teman, menghadapi situasi sulit di medan perang, hidup dalam ketakutan akan cedera, hingga merasakan dirinya "dilupakan" setelah kembali dari tugas militer.
Kondisi tersebut disebut memicu tekanan psikologis serius di kalangan mahasiswa.
Menurut data terbaru yang akan dipresentasikan dalam konferensi ilmiah tahunan mengenai bunuh diri di Israel, sebanyak 39,4% mahasiswa melaporkan mengalami gejala depresi berat. Sementara itu, 33,8% lainnya mengaku memiliki pikiran bunuh diri aktif dengan tingkat yang berbeda-beda.
Angka tersebut menunjukkan memburuknya kondisi kesehatan mental mahasiswa sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023.
Temuan itu juga jauh melampaui rata-rata global. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa di luar Israel, sekitar 20% hingga 25% mahasiswa biasanya melaporkan gejala depresi selama masa studi akademik. Sedangkan proporsi mahasiswa yang mengalami pikiran bunuh diri di berbagai negara berkisar antara 18% hingga 24%.
Penelitian tersebut melacak kondisi mahasiswa sebelum dan sesudah perang dimulai. Hasilnya menunjukkan lonjakan signifikan pada gejala depresi setelah konflik berlangsung.
Para peneliti menjelaskan bahwa sejumlah faktor risiko utama terhadap tekanan psikologis dan kecenderungan bunuh diri semakin memburuk di tengah perang yang masih berlangsung. Faktor-faktor itu meliputi depresi, kecemasan, stres, hingga gangguan tidur.
Selain pengalaman bertugas di militer cadangan, kekhawatiran terhadap anggota keluarga, ketidakpastian ekonomi, dan situasi keamanan juga disebut memperparah kondisi mental para mahasiswa.
(luc/luc)
Addsource on Google

5 hours ago
2

















































