Trump Kena "Tampar" Pejabat Sendiri, Tak Ada Bukti Iran Mau Serang AS

8 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui kepada staf Kongres bahwa tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang lebih dulu pasukan Amerika Serikat (AS). Hal ini diungkapkan dua sumber yang mengetahui jalannya pengarahan tersebut.

Pernyataan yang dilansir dikutip Reuters itu disampaikan sehari setelah AS dan Israel melancarkan salah satu serangan paling ambisius terhadap Iran dalam beberapa dekade terakhir. Operasi militer yang dimulai Sabtu (1/3/2026) itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menenggelamkan kapal-kapal perang Iran, serta menghantam lebih dari 1.000 target di berbagai wilayah, menurut pejabat terkait.

Pengakuan dalam forum tertutup tersebut dinilai meruntuhkan salah satu argumen utama yang sebelumnya digunakan pemerintahan Trump untuk membenarkan perang.

Sehari sebelumnya, pejabat senior pemerintah mengatakan kepada wartawan bahwa keputusan Trump melancarkan serangan sebagian dipicu oleh indikasi bahwa Iran mungkin akan menyerang pasukan AS di Timur Tengah.

Pada Minggu, pejabat Pentagon memberikan pengarahan selama lebih dari 90 menit kepada staf Demokrat dan Republik dari sejumlah komite keamanan nasional di Senat dan DPR, terkait perkembangan operasi militer AS di Iran. Hal itu disampaikan juru bicara Gedung Putih Dylan Johnson sebelumnya.

Dalam pengarahan tersebut, pejabat pemerintahan menekankan bahwa rudal balistik Iran dan pasukan proksi Teheran di kawasan memang menimbulkan ancaman mendesak terhadap kepentingan Amerika. Namun, menurut dua sumber yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonim, tidak ada intelijen yang menunjukkan Iran berencana menyerang pasukan AS terlebih dahulu.

Trump menyatakan operasi militer yang diperkirakan akan berlangsung selama berminggu-minggu itu bertujuan memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir, membatasi program rudalnya, serta menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Ia juga mendesak rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintah mereka.

Meski demikian, Partai Demokrat menuduh Trump melancarkan "perang pilihan" dan mempertanyakan alasan pemerintah meninggalkan jalur diplomasi yang sebelumnya disebut masih memiliki peluang oleh mediator Oman.

Trump berulang kali menyatakan, tanpa memaparkan bukti, bahwa Iran berada di jalur untuk segera memiliki kemampuan menyerang Amerika Serikat dengan rudal balistik.

Namun klaim tersebut tidak didukung laporan intelijen AS dan dinilai berlebihan, menurut sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan tersebut dan berbicara kepada Reuters.

Pertanyaan mengenai dasar pembenaran perang semakin mengemuka setelah militer AS pada Minggu mengumumkan korban pertama di pihak Amerika sejak konflik pecah.

Sementara itu, Komando Pusat AS (United States Central Command) menyatakan tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius. Selain itu, beberapa tentara lainnya dilaporkan mengalami luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak.

Militer AS juga mengungkapkan bahwa pesawat dan kapal perang AS telah menghantam lebih dari 1.000 target Iran sejak Trump memerintahkan dimulainya operasi tempur besar-besaran. Di antara serangan tersebut adalah pengerahan pembom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon atau sekitar 900 kilogram ke fasilitas rudal bawah tanah Iran yang diperkuat.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |