Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah satu dekade beroperasi di Indonesia, Kredivo Group melalui flagship produknya, Kredivo, telah menunjukkan bahwa layanan kredit digital tidak hanya memperluas akses terhadap kredit formal, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata. Untuk melihat lebih jauh dampak tersebut, Kredivo Group bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menyusun Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo.
Studi tersebut menunjukkan bahwa akses kredit yang dibuka Kredivo melalui layanan PayLater dan Pinjaman Tunai (dari KrediFazz) turut mendorong pemanfaatan kredit yang lebih produktif, perilaku peminjaman yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan UMKM.
Co-Founder & Presiden Direktur Kredivo Indonesia, Umang Rustagi, mengatakan bahwa studi bersama LD FEB UI menunjukkan kontribusi industri kredit digital kini tidak hanya diukur dari besarnya penyaluran kredit, tetapi juga dari dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan.
"Sepuluh tahun lalu, Kredivo Group hadir di tengah kesenjangan kredit yang luas, dengan visi menjembatani akses masyarakat terhadap layanan kredit yang mudah, cepat, dan terjangkau. Sejak saat itu, kami tumbuh bersama jutaan pengguna, merchant, dan mitra untuk tidak hanya membuka akses namun juga untuk memberdayakan secara sosial dan ekonomi. Studi bersama LD FEB UI ini menjadi refleksi atas perjalanan itu, sekaligus menegaskan bahwa kredit digital kini menjadi bagian dari infrastruktur keuangan yang membantu masyarakat membangun riwayat kredit, memenuhi kebutuhan produktif, hingga mengembangkan usaha," ungkap Umang dalam keterangan resmi, Jumat (11/9/2026).
Foto: dok Istimewa
Perluasan Akses Menjadi Pondasi Dampak yang Lebih Luas
Studi menunjukkan Kredivo membantu menjembatani kesenjangan akses kredit formal. Pada 2025, jumlah pengguna yang memperoleh akses kredit pertama melalui Kredivo meningkat 10 kali lipat dibandingkan 2019. Dari temuan tersebut, 48% di antaranya perempuan dan 57% berusia di bawah 30 tahun, yaitu dua kelompok yang secara historis sulit terjangkau layanan kredit karena minimnya riwayat keuangan.
Selain itu, ada sebanyak 23% pengguna mengaku Kredivo mempermudah akses mereka ke layanan kredit formal lainnya. Di segmen UMKM, 40,6% peminjam modal usaha memperoleh akses kredit usaha pertamanya melalui Kredivo. Temuan ini menunjukkan Kredivo dapat berfungsi sebagai gerbang menuju ekosistem keuangan lebih luas, termasuk bagi segmen masyarakat yang selama ini kerap sulit terjangkau oleh layanan keuangan formal.
Wakil Kepala Bidang Penelitian dan Pelatihan LD FEB UI, Paksi Walandouw mengatakan, perempuan generasi muda, dan pelaku UMKM merupakan kelompok yang paling sulit dijangkau sistem keuangan formal, namun justru menjadi bagian signifikan dari penerima akses kredit pertama melalui Kredivo.
"Yang terpenting bukan sekadar terbukanya akses, tetapi bagaimana akses tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha. Di situlah dampak sosial dan ekonomi mulai terbentuk," jelas Paksi.
Paksi menjelaskan, lebih dari separuh kredit yang disalurkan melalui Kredivo dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif, menunjukkan bahwa kredit digital berkembang dari alat pemenuhan kebutuhan jangka pendek menjadi instrumen pembentukan kapasitas ekonomi jangka panjang.Hal ini didukungoleh meningkatnya literasi keuangan dan praktik manajemen risiko yang prudent.
"Dengan pondasitersebut, kontribusi kredit digital terhadap perekonomian nasional memiliki ruang tumbuh lebih luas,terutama bagi kelompok masyarakat yang belum terjangkau layanan keuangan formal," rinci Paksi.
Di tengah semakin luas dan mudahnya akses ke kredit digital, pengguna Kredivo menunjukkan perilaku peminjaman yang sehat dan bertanggung jawab. Rata-rata Debt-to-Income Ratio (tingkat kesehatan rasio utang) berada di kisaran 10-19% dari total pendapatan atau tergolong sangat aman. Sebanyak 58,7% pengguna yang teraktivasi dan bertransaksi pada 2023 memperoleh kenaikan limit berkat rekam jejak pembayaran yang disiplin, sementara 65,7% pengguna tergolong well-literate secara finansial.
Temuan ini menunjukkan bahwa kemudahan akses kredit digital tidak membuat rasio pinjaman pengguna keluar dari batas aman, selama diiringi penggunaan yang disiplin dan bertanggung jawab. Head of Marketing Kredivo, Indina Andamari, Kredivo memandang PayLater sebagai titik awal bagi masyarakat untuk membangun reputasi finansialnya.
"Fokus kami adalah memastikan akses tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab melalui edukasi, inovasi produk, dan praktik penyaluran kredit yang prudent. Ketika akses diikuti perilaku finansial yang sehat, manfaatnya dapat dirasakan dalam peluang ekonomi yang semakin luas bagi pengguna," kata Indina.
Studi juga menunjukkan meningkatnya pemanfaatan kredit untuk kebutuhan produktif. Porsi kredit produktif yang disalurkan melalui Kredivo meningkat dari 52,3% pada 2019 menjadi 54,3% pada 2025, mencakup kebutuhan kesehatan, pendidikan, renovasi rumah, dan modal usaha. Dalam periode yang sama, jumlah pengguna yang memanfaatkan kredit sebagai modal usaha meningkat 15 kali lipat.
Temuan ini menandakan kredit digital semakin dipercaya sebagai alat pengelolaan keuangan jangka panjang sekaligus sumber pembiayaan masyarakat.Selama 2025, PayLater Kredivo berkontribusi sebesar 30% terhadap total outstanding PayLater nasionaldi Februari 2026.
Melalui layanan Pinjaman Tunai, Kredivo juga menyumbang sekitar 30% dari total nilaioutstanding dan 20% dari total akun pengguna fintech lending nasional di Desember 2025. Kontribusi inimenegaskan posisi Kredivo Group sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan industri kreditdigital di Indonesia.
Di luar skala bisnisnya, studi ini juga menunjukkan dampak ekonomi yang dihasilkan Kredivo. Pada 2025, Kredivo berkontribusi sekitar Rp33 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, meningkat hampir 10 kali lipat dibandingkan 2019. Di sisi UMKM, 96,9% peminjam modal usaha merupakan pelaku usaha mikro dan 34% di antaranya mengalami peningkatan omzet sebesar 10-40%.
Temuan ini menegaskan bahwa akses pembiayaan bukan sekadar membantu usaha bertahan, tetapi juga mendorong pertumbuhan riil yang berdampak pada perekonomian nasional secara lebih luas. Dampak tersebut diperkuat oleh jaringan merchant yang tumbuh 16 kali lipat sejak 2019 dan kini menjangkau 446 kabupaten/kota, terutama di wilayah tier 2 dan 3.
"Bagi kami, keberhasilan Kredivo tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari seberapa jauh akses pembiayaan yang kami hadirkan dapat menciptakan manfaat ekonomi yang nyata. Mulai dari membantu masyarakat membangun rekam jejak keuangan, mendukung kebutuhan produktif, hingga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Ke depan, kami akan terus berupaya memperluas dampak tersebut secara bertanggung jawab, sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ekosistem keuangan Indonesia," jelas dia.
Studi ini mencakup sepuluh tahun perjalanan Kredivo di Indonesia dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Survei dilakukan terhadap 67 pelaku UMKM dan 730 pengguna, dilengkapi data internal Kredivo, statistik berbagai institusi, serta perbandingan industri. Pendekatan kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan 10 pelaku UMKM dan 20 pengguna.
Data lengkap Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo dapat diunduh melaluiwww.kredivocorp.com.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

7 hours ago
2

















































