Dunia Darurat, Arab-Irak-UAE-Kuwait Pangkas Produksi 6,7 Juta Barel

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Empat raksasa minyak di kawasan Timur Tengah yakni Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait memangkas produksi minyak mereka secara kolektif hingga 6,7 juta barel per hari. Langkah ini diambil di tengah perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang telah memasuki minggu kedua.

Melansir The Edge Malaysia, konflik tersebut menyebabkan jalur ekspor utama kawasan itu praktis tertutup sehingga tangki penyimpanan minyak mulai penuh dan produksi terpaksa dikurangi. Situasi ini juga memicu gangguan besar pada rantai pasok energi global.

CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan krisis kali ini merupakan yang terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan tersebut. Pernyataan itu disampaikan saat paparan kinerja perusahaan kepada investor.

Menurutnya, pemangkasan produksi oleh empat negara tersebut merupakan respons pasokan paling nyata sejak perang dimulai. Secara keseluruhan, produksi gabungan mereka telah berkurang hingga sepertiga dari level sebelumnya.

Kekacauan dan penghentian aktivitas ekspor sempat mendorong harga minyak mendekati US$120 per barel pada Senin. Namun harga kembali turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang tersebut kemungkinan akan segera berakhir.

Secara rinci, Arab Saudi memangkas produksi sekitar 2 juta hingga 2,5 juta barel per hari. Uni Emirat Arab menurunkan output sekitar 500.000 hingga 800.000 barel per hari, sementara Kuwait memangkas sekitar 500.000 barel per hari dan Irak sekitar 2,9 juta barel per hari.

Nasser menambahkan gangguan tersebut memicu reaksi berantai di berbagai sektor mulai dari pengiriman dan asuransi hingga industri penerbangan, pertanian, serta otomotif. Ia memperingatkan konsekuensi bagi pasar minyak global dan ekonomi dunia akan semakin besar jika gangguan ini berlangsung lebih lama.

Dalam panggilan tersebut, Nasser menolak memberikan komentar langsung terkait tingkat produksi terbaru perusahaannya. Meski demikian, data menunjukkan pemangkasan terbesar secara proporsional terjadi di Irak yang mencapai hampir 60%.

Sementara itu, pemotongan produksi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait masing-masing setara sekitar 20% hingga 25% dari level produksi Februari lalu. Data tersebut dihimpun oleh Bloomberg berdasarkan sumber yang mengetahui kebijakan produksi negara-negara tersebut.

Nasser juga menyoroti bahwa persediaan minyak global saat ini sudah berada di titik terendah dalam lima tahun terakhir. Dengan krisis geopolitik yang berlangsung, cadangan tersebut diperkirakan akan terus terkuras lebih cepat.

Ia menegaskan sebagian besar kapasitas cadangan produksi minyak dunia berada di kawasan Timur Tengah. Karena itu, kelancaran pengiriman melalui Selat Hormuz menjadi sangat krusial bagi stabilitas pasar energi global.

(fsd/fsd)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |