Ini 3 Raksasa Rating Global Bikin Dunia Gemetar: SdanP, Moody's dan Fitch

2 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

13 February 2026 13:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu rating pemerintah tengah menjadi sorotan, terutama sejak Moody's menurunkan outlooknya.

Penurunan outlook ini dikhawatirkan mengurangi daya tarik aset Indonesia oleh investor global.

Untuk menjawab isu tersebut, Danantara akan menggelar acara Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026 yang akan dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Jumat (13/2/2026) di Auditorium Wisma Danantara, Jakarta, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.

Selain Presiden, turut hadir CEO Danantara Rosan P. Roeslani dan sejumlah menteri di bawah kabinet Merah Putih.

Di tengah agenda ekonomi tersebut, sentimen pasar global masih menyorot posisi Indonesia di mata lembaga pemeringkat kredit dunia. Terbaru, Moody's memangkas outlook Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski mempertahankan peringkat kredit di level investment grade

Mengenal Lebih Dalam Tentang Lembaga Pemeringkat

Lembaga pemeringkat atau rating agency adalah institusi independen yang bertugas menilai risiko kredit suatu pihak, baik negara maupun perusahaan. Secara sederhana, mereka mengukur seberapa kuat kemampuan dan kemauan penerbit utang untuk membayar pokok serta bunga tepat waktu. Hasil penilaian ini kemudian dituangkan dalam dua indikator utama, yakni rating dan outlook.

Khusus untuk negara, penilaian tersebut dikenal sebagai sovereign credit rating.

Rating adalah nilai huruf yang menggambarkan kualitas kredit saat ini. Semakin tinggi rating, semakin rendah risiko gagal bayar di mata pasar.

Rating juga menjadi patokan penting bagi investor global, karena banyak investor institusi, seperti manajer dana pensiun, asuransi, hingga reksa dana obligasi, punya aturan internal yang membatasi mereka hanya boleh membeli aset dengan peringkat tertentu.

Ketika rating sebuah negara kuat dan berada di level investment grade, basis investornya cenderung lebih luas dan biaya pendanaannya lebih murah.

Selain investment grade, ada kategori di bawahnya yang disebut speculative grade. Kelompok ini kerap dijuluki non investment grade atau junk karena risikonya dinilai lebih tinggi. Ketika penerbit berada di level ini, investor cenderung menuntut kompensasi imbal hasil yang lebih besar, sehingga biaya pendanaan meningkat.

Saat ini, ketiga lembaga rating internasional yakni Moody;s, S&P dan Fitch Ratings menempatkan Indonesia dalam status investment grade. 

Investment grade adalah peringkat kredit  yang menunjukkan bahwa suatu instrumen utang atau penerbit utang memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah, sehingga dianggap layak untuk investasi oleh investor institusi besar.

Di level paling bawah, terdapat kategori default yang menggambarkan kondisi gagal bayar atau sangat dekat dengan itu.

Sementara itu, tidak semua penerbit atau surat utang memiliki peringkat. Ada pula instrumen yang berstatus not rated, yakni belum dinilai atau tidak meminta pemeringkatan, sehingga investor perlu mengandalkan analisis risiko mereka sendiri.

Selain rating, ada outlook yang merupakan arah pandangan lembaga pemeringkat untuk beberapa waktu ke depan, apakah peringkat cenderung stabil atau berisiko berubah. Outlook stabil umumnya berarti faktor penopang peringkat dinilai masih terjaga.

Sementara outlook negatif adalah sinyal bahwa ada tekanan yang jika berlanjut dapat membuka peluang penurunan rating. Karena sifatnya sinyal awal, perubahan outlook sering dipantau ketat oleh pelaku pasar sebagai peringatan dini terhadap perubahan risiko, terutama untuk pergerakan obligasi, arus modal, dan premi risiko suatu negara.

Lembaga rating global menilai peringkat berdasarkan beberapa variabel, di antaranya:

Lembaga pemeringkat tak asal kasih nilai. Mereka membedah fondasi ekonomi suatu negara dari berbagai sisi, mulai dari:

  • Kekuatan mesin ekonomi - seberapa solid pertumbuhan dan daya tahan terhadap gejolak global

  • Kesehatan fiskal - apakah APBN cukup kuat menahan tekanan belanja dan defisit

  • Rasio utang terhadap PDB - seberapa berat beban utang dibanding ukuran ekonomi

  • Stabilitas politik dan kebijakan - apakah arah pemerintahan konsisten dan kredibel

  • Prospek pertumbuhan ke depan - apakah ekonomi punya bensin untuk terus melaju

Ada cukup banyak lembaga pemeringkat kredit di dunia, namun berikut ini adalah tiga lembaga yang paling banyak digunakan sebagai acuan oleh global.

Fitch Ratings

Fitch Ratings merupakan salah satu dari tiga lembaga pemeringkat kredit global yang paling sering dijadikan rujukan investor internasional, terutama untuk membaca risiko sebuah negara dalam membayar kewajiban utangnya.

Untuk sovereign rating Indonesia, Fitch terakhir kali mengumumkan penilaiannya pada 11 Maret 2025 dengan peringkat BBB dan outlook stable. Artinya, Indonesia masih berada di kelas investment grade versi Fitch, sementara outlook stabil menandakan faktor-faktor penopang peringkat dinilai masih cukup terjaga dalam penilaian mereka.

Sebagai catatan, Indonesia pertama kali kembali masuk investment grade versi Fitch pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Fitch menaikkan peringkat Indonesia menjadi BBB- pada 15 Desember 2011 dengan outlook stable, yang menandai kembalinya Indonesia ke kategori layak investasi versi Fitch untuk pertama kalinya sejak krisis 1998.

Moody's Ratings

Selain Fitch, lembaga lain yang baru saja menjadi perhatian pasar adalah Moody's. Lembaga pemeringkat asal Amerika Serikat ini baru saja membuat langkah yang langsung dibaca sebagai sinyal kehati-hatian oleh investor global.

Moody's mempertahankan sovereign rating Indonesia di level Baa2 atau setingkat investment grade, namun menurunkan outlook menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Artinya, Indonesia masih berada di kelas investment grade versi Moody's, tetapi ada faktor risiko yang dinilai meningkat sehingga arah penilaian ke depan menjadi lebih rentan. Bagi pasar, perubahan outlook biasanya dipantau ketat karena sering menjadi peringatan awal sebelum perubahan rating terjadi.

S&P Global Ratings

Selain itu ada, Standard and Poor's Global Ratings atau S&P yang masih menempatkan Indonesia dalam kategori layak investasi. Sama seperti Moody's, S&P menilai kelayakan kredit negara dan perusahaan, terutama untuk mengukur risiko kredit dan ketahanan fundamental ekonomi serta kebijakan. Terakhir S&P menilai Indonesia berada di level BBB dengan outlook stabil.

Rating BBB menunjukkan Indonesia masih dianggap memenuhi standar investment grade versi S&P, sementara outlook stabil mengindikasikan penopang peringkat dinilai masih cukup terjaga dalam penilaian mereka.

Posisi rating dan outlook ini biasanya menjadi pegangan investor untuk membaca apakah profil risiko Indonesia cenderung konsisten atau sedang menghadapi tekanan yang bisa mengubah persepsi pasar.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |