FOTO : Ilustrasi [ ist ]
KITA lanjutkan cerita rupiah anjlok. Salah satu penyebabnya, banyak investor asing kabur bawa dolar. Kader dan simpatisan Partai Koptagul harus paham soal ini.
Siapkan lagi cairan hitam no sugar, dan nikmati narasinya, wak!
Indonesia sekarang seperti kapal tua yang dihantam badai dolar sambil mesinnya dicuri tikus birokrasi. Di atas kapal, pejabat pidato ekonomi kuat. Di bawah kapal, rakyat sibuk menghitung receh sambil menatap harga cabai rawit merah yang kini lebih menegangkan dari harga emas Antam.
Per 20 Mei 2026, rupiah resmi tumbang ke Rp17.707 per dolar AS. Rekor terlemah sepanjang sejarah. Presiden Prabowo Subianto sebenarnya sudah memasang target kurs Rp16.800–17.500 dalam RAPBN 2027. Tapi pasar tampaknya sedang keras kepala. Dolar melompat seperti kambing habis minum bensin oplosan.
Penyebab utamanya? Investor asing kabur sambil meluk koper dolar seperti emak-emak meluk minyak goreng waktu langka.
Gubernur Perry Warjiyo mengungkapkan sepanjang kuartal I-2026, modal asing keluar Rp26,06 triliun dari pasar saham dan Rp25,10 triliun dari obligasi pemerintah. Total Rp51,16 triliun kabur hanya dalam tiga bulan. Belum lagi jual bersih asing hingga April mencapai Rp12,49 triliun. Akumulasi sejak awal tahun tembus Rp40,25 triliun.
Investor asing tampaknya melihat Indonesia seperti rumah kontrakan yang mulai bocor, listrik jeglek, dan depan rumah dipenuhi debt collector ekonomi.
Bank Indonesia bilang faktor global sedang brutal. Yield US Treasury 10 tahun naik hingga 4,66 persen pada 19 Mei 2026. Investor dunia pindah ke aset aman Amerika Serikat. Bahasa sederhananya, kalau dunia mulai wobble, orang kaya lebih percaya parkir duit di Washington dari di negara yang rapat proyeknya kadang lebih panas dari grup WA alumni.
Tapi DPR tidak mau cuma dengar cerita “global-globalan.” Anggota Komisi XI DPR, Harris Turino, langsung menohok. Katanya, jujur saja, ada masalah domestik. Defisit fiskal, modal keluar, dan menurunnya kepercayaan investor terhadap Indonesia. Nah, bagian domestik ini seperti sinetron ijazah 700 episode.
Kasus paling legendaris terjadi di Cilegon, Banten. Tahun 2025, ada oknum berbaju Kadin meminta jatah proyek Rp5 triliun kepada China Chengda Engineering Co. Ltd (CCE), investor asal Tiongkok yang sedang membangun proyek CA-EDC milik PT Chandra Asri Alkali senilai Rp15–17 triliun.
Akang bayangkan investor baru buka laptop, belum sempat presentasi, sudah ada suara dari pojok ruangan, “Bang, kontribusi lingkungan dulu.” Rp5 triliun pula. Itu bukan uang keamanan. Itu uang yang kalau dijadikan pecahan seratus ribu mungkin bisa dipakai alas tidur satu kecamatan.
Ketua Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, akhirnya menonaktifkan anggota yang terlibat. Tapi citra Indonesia sudah telanjur lecet seperti mobil dinas amblas di Jalan Ketungau Hulu.
Akibatnya, investor asing mulai melirik Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Negara tetangga sekarang seperti tetangga komplek yang rumahnya lebih rapi, pagar dicat, satpamnya tidak minta jatah proyek.
Padahal si Aseng, China selama satu dekade terakhir sudah menggelontorkan sekitar US$45 miliar untuk lebih dari 43.700 proyek infrastruktur di Indonesia. Hubungan ekonomi sedang romantis-romantisnya. Tapi kalau tiap proyek disambut proposal jatah, investor juga lama-lama mikir, “Ini investasi apa ikut survival show?”
Belum selesai penderitaan republik ini. Media internasional ikut turun gunung. Majalah The Economist baru-baru ini mengkritik keras ekonomi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.
The Economist menilai kebijakan fiskal Indonesia terlalu boros. Program Makan Bergizi Gratis dan pembentukan koperasi desa dianggap bisa mempersempit ruang fiskal negara. Mereka juga menyoroti potensi defisit anggaran membengkak, gaya kepemimpinan yang dianggap terlalu otoriter, dan risiko Indonesia kehilangan 20 tahun kemajuan ekonomi-politik kalau pola ini diteruskan.
Bahasa kasarnya, The Economist seperti bilang, “Indonesia jangan terlalu percaya diri beli sound horeg konser kalau atap rumah masih bocor.”
Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa langsung pasang badan. Katanya, defisit 2025 cuma 2,8 persen dari PDB, masih di bawah batas aman 3 persen. Rasio utang Indonesia sekitar 40 persen dari PDB, jauh lebih rendah dibanding banyak negara Eropa yang mendekati 100 persen.
Purbaya juga bilang ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026 meski tekanan global sedang ganas. Menurut pemerintah, fondasi ekonomi Indonesia masih sehat dan seharusnya dipuji, bukan malah dicurigai seperti mantan pinjam uang.
Jadilah sekarang perang narasi besar-besaran. The Economist melihat ancaman jangka panjang. Pemerintah melihat capaian jangka pendek. Yang di tengah? Rakyat sedang melihat harga cabai.
Data resmi PIHPS Bank Indonesia per 20 Mei 2026 menunjukkan cabai rawit merah naik Rp4.000 menjadi Rp72.500 per kilogram. Ini bukan cabai lagi. Ini cryptocurrency merah berbentuk keriting.
Cabai rawit hijau naik jadi Rp53.600. Cabai merah keriting Rp53.250. Bawang merah Rp48.000. Daging sapi kualitas 1 menyentuh Rp148.000 per kg. Sapi tampaknya sekarang sudah masuk kategori hewan sultan.
Memang telur ayam turun Rp500 menjadi Rp30.600 per kg. Tapi rakyat melihat penurunan itu seperti melihat promo minimarket: kecil, sebentar, lalu hilang.
Beras kualitas bawah masih bertahan di Rp14.500–14.600 per kg. Inilah pahlawan terakhir republik. Beras murah berdiri gagah melawan dolar, inflasi, dan seminar ekonomi dengan powerpoint 97 slide.
Rakyat sebenarnya tidak terlalu peduli istilah yield treasury, outflow, atau intervensi SBN. Mereka cuma tahu uang belanja makin tipis, harga makin brutal, dan PHK mulai mengendap-endap seperti ninja ekonomi.
Ekonom memperingatkan, jika rupiah tembus Rp20.000 per dolar AS pada pertengahan Juni 2026, gelombang PHK bisa tak terhindarkan. Nah, kalau itu terjadi, rakyat akan sadar, dolar bukan sekadar angka di televisi. Itu monster yang bisa masuk dapur, menggigit cabai, lalu membawa kabur isi dompet.
Kesimpulannya sederhana. Investor asing kabur bukan cuma karena dunia sedang kacau. Mereka juga takut pada hantu domestik, yakni budaya jatah proyek, premanisme kerah putih, regulasi berubah-ubah, dan drama politik yang kadang lebih absurd dari sinetron Rismon.
Kalau negara ingin investor bertahan, jangan cuma pasang baliho “Welcome Investor.” Pastikan juga tamunya tidak disambut manusia yang lebih cepat menghitung jatah dari menghitung manfaat investasi.
Kalau tidak dibenahi, nanti investor asing benar-benar pergi semua. Yang tersisa hanya utang, seminar motivasi ekonomi, pidato optimisme, dan rakyat yang makan mie sambil memandangi cabai rawit merah seperti melihat mantan menikah dengan pengusaha sawit.
Oleh : Rosadi Jamani
[ Ketua Satupena Kalbar ]
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

16 hours ago
6
















































