Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan Indonesia beruntung memiliki ekonomi yang solid, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat di tengah gejolak global.
Saat ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh sebesar 5,61%, utamanya memang masih didukung oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh 5,52% dengan porsi terhadap PDB mencapai 54,36%. Hal ini lah yang menurut Destry menjadi modal kuat RI menghadapi gejolak ekonomi dunia.
"Kita beruntung punya ekonomi domestik yang relatif solid dibandingkan dengan negara lain. Ya itu juga terbukti dengan pertumbuhan ekonomi kita, PDB kita di triwulan satu kemarin yang tumbuh impresif 5,6%. Pada saat negara lain juga mereka masih sulit," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (23/6/2026).
"Nah kita beruntung konsumsi masyarakat di mana ini penopang dari PDB kita masih bisa resilient dalam kondisi ini," tutur Destry.
Ketahanan konsumsi rumah tangga ini ia juga anggap membuat Indonesia memiliki potensi sangat besar terus dilirik oleh investor untuk menanamkan modalnya di dalam negeri, meskipun tingginya ketidakpastian ekonomi akibat konflik di berbagai kawasan.
Misalnya ketidakpastian tinggi yang diakibatkan oleh tutupnya Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, buntut perang di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat.
Gangguan itu pun pada akhirnya sudah membuat harga minyak mentah dunia melonjak hingga tembus US$100 per barel dan inflasi dunia diperkirakan akan meningkat.
Untuk itu, BI kata Destry terus berupaya menjaga ketahanan eksternal Indonesia demi menjaga daya tahan motor pertumbuhan domestik itu. Salah satu upaya menjaga ketahanan eksternal seperti melalui kebijakan moneter kenaikan BI Rate.
Bila guncangan eksternal tidak diantisipasi, dampaknya bisa mengurangi kemampuan konsumsi masyarakat, terutama karena merosotnya pertumbuhan ekspor, dan besarnya tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
"Jadi itu juga tentunya menjadi kewaspadaan buat kita karena nanti ini pasti akan tercermin juga di inflasi yang meningkat. Nah, oleh karena itu kenapa kita juga kemarin naikkan suku bunga sebagai langkah stabilisasi di rupiah kita, dan juga tentunya forward looking supaya kita bisa menjaga inflasi," tegas Destry.
(arj/arj)
Addsource on Google

6 hours ago
4

















































