Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan Timur Tengah (Timteng) memasuki fase baru pembentukan aliansi keamanan regional seiring memudarnya peran "penjamin keamanan tunggal" dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Sejumlah negara kini mulai membangun kemitraan pertahanan berlapis, menandai pergeseran dari pola lama yang bergantung pada kekuatan eksternal.
Presiden Pusat Studi Timteng sekaligus analis geopolitik, Murad Sadygzade, menilai kawasan tersebut tengah mengalami rekomposisi strategis yang signifikan. Menurutnya, asumsi lama yang menempatkan satu kekuatan eksternal sebagai penopang utama stabilitas kawasan semakin kehilangan relevansi.
"Model lama yang menempatkan satu penjamin keamanan utama tidak lagi dapat diandalkan seperti sebelumnya," tulis Sadygzade dalam analisisnya, seperti dikutip RT, Jumat (13/2/2026).
"Selama beberapa dekade, Amerika Serikat (AS) dipandang sebagai jangkar keamanan Timur Tengah. Namun, serangkaian peristiwa dalam beberapa tahun terakhir mengikis kepercayaan tersebut," tambahnya.
Salah satu yang paling disorot adalah serangan Israel ke Doha, Qatar, pada September 2025. Ini memicu kekhawatiran negara-negara Teluk terhadap potensi eskalasi konflik tanpa pengendalian eksternal yang memadai.
Peristiwa itu dinilai menunjukkan bahwa garis merah politik dapat dilanggar dengan cepat, di tengah keterbatasan pengekangan dari luar kawasan.
Dalam konteks tersebut, Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis antara Arab Saudi dan Pakistan yang ditandatangani pada September 2025 menarik perhatian luas. Kesepakatan ini dipandang sebagai sinyal bahwa negara-negara kawasan mulai menyiapkan skema keamanan alternatif.
"pakta itu mencerminkan upaya membangun opsi perlindungan sendiri melalui kemitraan regional, bukan lagi sepenuhnya mendelegasikan keamanan kepada satu pelindung," tambah Sadygzade.
Timteng Terbelah Dua
Seiring perkembangan itu, bisa dikatakan Timur Tengah terbelah dua. Satu poros berkembang di sekitar Arab Saudi, Pakistan, Turki, Mesir, dan Oman sementara lainnya Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel.
Arab Saudi, Pakistan, Turki, Mesir, dan Oman dipandang mengedepankan pendekatan berbasis kedaulatan dan pengurangan ketergantungan pada jaminan eksternal. Beberapa negara lain seperti Qatar dan Aljazair disebut mengamati konfigurasi ini, meski belum men gambil posisi.
Di sisi lain, aliansi penyeimbang terbentuk di sekitar Israel dan UEA. Mereka berfokus pada kerja sama teknologi, intelijen, dan industri pertahanan.
Jaringan ini diperkuat oleh peran Azerbaijan. Meski menjaga hubungan dekat dengan Turki, negeri itu memiliki kerja sama keamanan dan energi yang mendalam dengan Israel serta meningkatkan kolaborasi dengan Abu Dhabi.
Genk Arab Saudi VS UEA-Israel
Kedekatan antara Turki, Arab Saudi, dan Mesir juga semakin menonjol dalam beberapa bulan terakhir. Pada awal Februari 2026, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan kunjungan ke Riyadh.
Pemberitaan publik menyebutkan pembahasan kerja sama industri pertahanan, termasuk peluang partisipasi Arab Saudi dalam program jet tempur KAAN milik Turki. Langkah ini dinilai tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga bertujuan membangun ketergantungan strategis jangka panjang melalui produksi bersama.
Selain penguatan militer, upaya diplomatik regional juga berkembang. Reuters melaporkan rencana pembicaraan di Istanbul pada awal Februari 2026 yang melibatkan Arab Saudi, Qatar, Mesir, Oman, Pakistan.
Meski UEA dianggap lebih dekat ke Isral, negeri itu juga diajak. Intinya forum ini bertujuan mencegah konflik terbuka dan memperkuat mekanisme de-eskalasi, sekaligus menunjukkan upaya negara-negara kawasan membentuk agenda keamanan secara kolektif tanpa sepenuhnya bergantung pada aktor eksternal
Di tengah itu, kerja sama keamanan Israel dengan mitra-mitranya terus menguat. Normalisasi hubungan Israel dan UEA sejak Kesepakatan Abraham mendorong kolaborasi industri pertahanan yang lebih nyata, termasuk investasi lintas negara di sektor teknologi.
Hubungan ini dipandang sebagai upaya menutup celah antara ancaman dan kemampuan respons di tengah lingkungan keamanan yang tidak menentu.Peran Azerbaijan menambah kompleksitas peta keamanan kawasan.
Negara tersebut memperdalam hubungan energi dan pertahanan dengan Israel, sekaligus meningkatkan kerja sama militer dengan UEA, termasuk rencana latihan bersama "Shield of Peace 2026". Aktivitas latihan, proyek industri, dan kunjungan tingkat tinggi dinilai memiliki makna strategis sebagai sinyal politik sekaligus militer di kawasan.
Kisruh Somaliland & Aktor Dunia Baru
Dinamika baru ini juga berdampak di luar Timur Tengah inti. Pada Desember 2025, keputusan Israel mengakui Somaliland memicu penolakan Somalia dan kritik dari sejumlah negara, termasuk Turki.
Langkah tersebut menyoroti keterkaitan isu keamanan Teluk, Laut Merah, dan Tanduk Afrika, di mana pelabuhan, jalur pelayaran, energi, dan infrastruktur strategis saling terhubung.
Meski membuka peluang bagi otonomi keamanan regional yang lebih besar, pembentukan blok-blok baru juga membawa risiko dilema keamanan. Langkah defensif satu pihak berpotensi dipersepsikan sebagai ancaman oleh pihak lain, memicu eskalasi balasan. Namun, Sadygzade menilai tekanan persaingan juga dapat mendorong lahirnya mekanisme stabilisasi baru.
Dalam jangka panjang, Timur Tengah dinilai berpeluang membangun arsitektur keamanan regional yang lebih mencerminkan keseimbangan kekuatan nyata di kawasan. Jika berhasil, kawasan ini dapat bertransformasi dari sekadar arena persaingan global menjadi salah satu aktor yang turut membentuk tatanan dunia multipolar baru.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2














































