Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan rencana implementasi Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) khususnya dalam tabung 3 kilogram (kg) pada tahun ini.
Sejatinya, penggunaan CNG dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG yang telah mencapai angka 7 juta ton per tahun serta mengurangi beban subsidi negara.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan sedang mematangkan pola distribusi dan penyiapan infrastruktur pendukung di lapangan. Dia menyebut percepatan konversi tersebut utamanya untuk menekan porsi impor gas yang terus membengkak seiring dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi.
"Ditargetkan tahun ini bisa dikonsumsi masyarakat," ujarnya dalam acara diskusi oleh ASPEBINDO, di Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).
Pemerintah mencatat produksi LPG nasional terus mengalami tren penurunan sejak tahun 2010 hingga kini hanya tersisa sekitar 1,6 juta ton per tahun. Kondisi tersebut memaksa Indonesia untuk mendatangkan pasokan dari luar negeri dalam jumlah besar guna mencukupi kebutuhan domestik yang mayoritas dialokasikan untuk sektor rumah tangga.
"Artinya dari tahun ke tahun dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kita akan terus menambah impor LPG kalau tidak bisa kita konversikan ke sumber yang lain," tambahnya.
Berbeda dengan LPG yang bahan bakunya terbatas di dalam negeri, sumber gas untuk CNG justru tersedia dari lapangan-lapangan migas nasional sehingga dapat menghemat devisa sekaligus memangkas biaya subsidi hingga 30%.
"Kalau ini gasnya ada dari hasil kita sendiri, jaraknya juga tidak jauh. Jadi setelah dihitung-hitung disimulasikan bisa menghemat sekitar 30-an persen seperti yang sudah diumumkan oleh Bapak Menteri," katanya.
Pada tahap awal, distribusi CNG tersebut direncanakan akan menyasar wilayah dengan infrastruktur pendukung yang paling siap. Pemerintah fokus memulai simulasi penggunaan gas jenis ini di beberapa wilayah perkotaan sebelum nantinya diimplementasikan secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
"Bertahap di kota-kota besar dulu di Jawa. Roadmap-nya adalah tentu kita ada karena ini belum diumumkan oleh Pak Menteri, tapi intinya ke depan kita akan mereduksi LPG kita, kita gantikan dengan CNG," tandasnya.
Di lain sisi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pun sedang mengkaji agar penggunaan CNG tersebut bisa diberikan subsidi. "Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah, tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya," terang Bahlil usai rapat terbatas di Istana Negara, Selasa (5/5/2026).
Sebagaimana diketahui, kebutuhan LPG di Indonesia masih ditopang oleh impor sebesar 75% hingga 80%. Di mana 7 sampai 8 juta tonnya dipakai untuk kebutuhan rumah tangga.
Nah yang jadi persoalan, ketika gejolak politik seperti sekarang ini Indonesia juga membutuhkan kepastian impor LPG.
"Atas itu, maka kita merumuskan untuk mencari alternatif lain. CNG adalah salah satu alternatifnya. Nah CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG, sudah ada, tapi pada klasifikasi yang 20 kilogram ke atas, ada yang 10 kilogram ke atas," terang Bahlil.
Saat ini pihaknya sedang menguji coba untuk menghadirkan CNG dengan ukuran yang lebih kecil atau 3 Kilogram. Diperkirakan, uji coba tersebut bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 bulan.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 hour ago
3

















































